Acara ditutup oleh penampilan musik dari Ngapah Band dan Madani yang membawakan lagu-lagu bertema persaudaraan dan cinta Tanah Air. Warga, tokoh agama, dan pelajar berdiri berdampingan, bernyanyi dan tertawa bersama.
Dalam suasana yang kian terpolarisasi akibat isu digital, politik identitas, dan ujaran kebencian, Festival Kerukunan ini menunjukkan bahwa damai bisa dimulai dari desa, dari budaya, dan dari partisipasi warga.
“Jika kerukunan adalah rumah besar Indonesia, maka desa adalah fondasinya. Dan fondasi itu hanya akan kokoh jika dibangun dengan bahasa budaya, rasa percaya, dan keterlibatan aktif seluruh anak bangsa,” tutup Adib. (ivan)