Lebih dari sekadar atraksi, keterlibatan ribuan penari dari berbagai latar belakang menunjukkan pentingnya keberagaman dan sinergi lintas sektor. “Dalam orchestra budaya ini, kita belajar bahwa kekuatan kolaborasi menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem koperasi yang berkeadilan dan inklusif,” tambah Fathan.
Selain menonjolkan sisi edukasi dan simbolik, peringatan ini juga dimanfaatkan untuk memberikan layanan konkret melalui Roadshow SERGAPP dan konsultasi K-UKM. Roadshow ini memberikan layanan terintegrasi mulai dari aspek kelembagaan, pembiayaan, produksi, hingga pemasaran.
“Layanan dasar seperti penerbitan Nomor Induk Berusaha (NIB) bisa langsung diselesaikan di tempat. Sedangkan layanan lanjutan seperti sertifikasi halal, PIRT, BPOM, program pembiayaan bersubsidi bunga (Prokesra), hingga perluasan akses pemasaran akan kami tindak lanjuti melalui tim pendamping UMKM dari Diskopum Kabupaten Bojonegoro dan sekitarnya,” tukas Fathan.
Langkah ini menunjukkan bahwa Pemprov Jatim tidak berhenti pada edukasi semata, tetapi juga hadir melalui pendampingan lanjutan yang berdampak langsung bagi pengembangan usaha koperasi dan UMKM.
Dengan menggabungkan semangat kolaboratif melalui pertunjukan budaya dan penyediaan layanan yang terintegrasi, Hari Koperasi ke-78 di Jawa Timur menjadi wujud nyata keseriusan pemerintah dalam memperkuat ekosistem koperasi dan UMKM. Momentum ini menjadi tonggak penting untuk membangun Jawa Timur sebagai gerbang baru Nusantara berbasis ekonomi kerakyatan. (ivan)