Mahasiswa Australia Belajar Naskah Kuno hingga Menulis Lontar di Disperpusip Jatim

pemerintahan | 04 September 2025 05:14

Mahasiswa Australia Belajar Naskah Kuno hingga Menulis Lontar di Disperpusip Jatim
Para mahasiswa Charles Sturt University Australia saat mengujungi beberapa spot literasi yang dimiliki Disperpusip Jawa Timur. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kekayaan literasi Jawa Timur kembali menjadi sorotan dunia. Enam mahasiswa Charles Sturt University Australia, Rabu, (3/9/2025), berkunjung ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Jatim untuk belajar pelestarian manuskrip kuno, hingga praktik menulis di atas daun lontar.

 

Dalam kunjungan yang diinisiasi Fakultas Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Airlangga (Unair) Surabaya ini, para mahasiswa disambut hangat oleh jajaran Disperpusip Jatim. M. Arif Widodo, ST, MSE, Plt. Sekretaris Disperpusip Jatim, yang mewakili Kepala Disperpusip Jatim Ir. Tiat S. Suwardi, MSi, menyampaikan kebanggaannya atas kehadiran mereka. Dilansir dari bhirawaonline.co.id, Kamis, (4/9/2025).

 

 

“Disperpusip Jatim benar-benar menjadi tempat menambah ilmu, pengetahuan, dan wawasan, terutama dalam pengembangan, kreativitas, eksplorasi, serta rekreasi literasi,” ungkap Arif.

 

 

Para mahasiswa diajak menyusuri berbagai spot literasi yang bisa diakses masyarakat, mulai layanan umum, layanan anak-anak, ruang dongeng, hingga Galeri Majapahit dan Walilimo.

 

Yang paling menarik, mereka berkunjung ke ruang pelestarian naskah kuno. Di sana, mahasiswa diperkenalkan cara restorasi sederhana, mulai dari laminasi dengan tisu Jepang, pengendalian hama, hingga menjaga suhu dan cahaya di ruang khusus.

 

 

“Mahasiswa juga sangat antusias ketika mencoba langsung nyerat (menulis) lontar dengan daun lontar,” tambah Arif.

 

 

 

Dosen Unair, Anita Dewi, menilai kunjungan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membuka peluang kerja sama internasional.

 

 

“Terima kasih sudah menerima mahasiswa Australia dengan baik. Harapannya, kerja sama akademisi dan industri literasi ini bisa berkelanjutan, bukan hanya sekali,” ujarnya.

 

Menurut Anita, kolaborasi penting karena lulusan bidang informasi dan perpustakaan harus mampu mendukung kinerja lembaga, termasuk perpustakaan dan kearsipan.

 

Kunjungan ini menegaskan bahwa warisan literasi Jatim—dari manuskrip kuno hingga tradisi menulis lontar—bukan sekadar peninggalan, melainkan sumber belajar global yang menghubungkan budaya, akademisi, dan masa depan literasi. (ivan)