Sehari sebelum pengiriman ini, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto meninjau kesiapan logistik di gudang BPBD. Ia menyebut antusiasme masyarakat Jawa Timur sangat tinggi. Bantuan dari OPD Pemprov, kabupaten/kota, lembaga masyarakat, hingga relawan mengalir tanpa henti. Semua bantuan diverifikasi dan dikemas ulang agar sesuai standar kedaruratan, karena ketidaktepatan barang dapat memperlambat distribusi di wilayah terdampak.
Meski demikian, tantangan terbesar justru berada pada jalur distribusi di Sumatera Utara dan Aceh. Kerusakan jembatan, ruas jalan yang hilang tersapu arus, serta beberapa titik yang tidak bisa diakses kendaraan berat membuat strategi distribusi harus fleksibel dan adaptif. Koordinasi dengan BPBD daerah serta aparat setempat menjadi elemen penting agar barang benar-benar sampai ke pengungsi.
Pengiriman lanjutan ini juga menjadi bagian dari rangkaian bantuan kemanusiaan senilai Rp5 miliar yang telah diberangkatkan sebelumnya di bawah komando Gubernur Jawa Timur. Dari sini tampak bagaimana Jatim memposisikan diri sebagai provinsi penyangga dalam sistem kebencanaan nasional—bukan menunggu instruksi, tetapi bergerak cepat berdasarkan kebutuhan lapangan.
Ketika bencana hidrometeorologi kini menjadi ancaman berulang, pola kolaborasi seperti yang dilakukan Pemprov Jatim memberi gambaran bahwa kapasitas daerah dapat saling menopang. Peran bandara internasional sebagai pusat percepatan distribusi menjadi bukti bahwa strategi teknis yang tepat mampu memperpendek jarak antara bantuan dan penerimanya.
Dan pada akhirnya, keberangkatan paket bantuan dari DMK Cargo bukan sekadar proses logistik. Ia adalah pesan solidaritas dari Jawa Timur: bahwa ketika sebagian negeri menghadapi bencana, bagian lainnya memilih untuk hadir, bergerak, dan memastikan harapan tetap hidup hingga masyarakat Sumut dan Aceh kembali bangkit. (int)