Dari Jawa Timur untuk Sumut dan Aceh: Pemprov Jatim Kirim Bantuan Lanjutan

pemerintahan | 05 Desember 2025 07:26

Dari Jawa Timur untuk Sumut dan Aceh: Pemprov Jatim Kirim Bantuan Lanjutan
Dok pustakajc

Berita ini disuport BPBD Jatim

SIDOARJO, PustakaJC.co – Deru forklift dan aktivitas kargo di Bandara Internasional Juanda pagi itu seolah menjadi latar bagi perjalanan panjang bantuan kemanusiaan dari Jawa Timur. Di tengah ritme yang sibuk, Pemerintah Provinsi Jawa Timur kembali memberangkatkan bantuan logistik tahap lanjutan untuk korban banjir bandang di Sumatera Utara dan Aceh, Kamis (4/12/2025). Dari area DMK Cargo inilah denyut solidaritas Jatim kembali dipercepat.

 

Pengiriman ini tak hanya menjadi lanjutan dari misi kemanusiaan sebelumnya, tetapi juga penegasan komitmen Jatim dalam merespons situasi darurat nasional. Laporan terbaru dari BPBD provinsi terdampak menunjukkan kebutuhan pengungsi masih sangat mendesak—mulai pangan siap konsumsi hingga perlengkapan perlindungan dasar. Sementara itu, akses darat yang belum stabil membuat jalur udara menjadi pilihan terbaik untuk mempercepat distribusi ke titik-titik pengungsian.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim Satriyo Nurseno dan Kepala BPKAD Jatim Sigit Panoentoen, meninjau langsung proses pemberangkatan. Di tengah barisan paket bantuan yang siap dikirim, terlihat jelas bagaimana koordinasi lintas-perangkat daerah berjalan simultan untuk memastikan setiap logistik tersalurkan tepat guna.

 

Adhy menyampaikan bahwa aksi cepat Pemprov Jatim bukan hanya wujud kepedulian antardaerah, tetapi juga bagian dari tanggung jawab moral sebagai provinsi dengan kapasitas logistik yang kuat. Ia menekankan pentingnya kehadiran nyata, bukan sekadar dukungan simbolis—kehadiran yang terukur melalui bantuan yang benar-benar dibutuhkan oleh warga terdampak.

 

Satriyo menambahkan bahwa bantuan kali ini merupakan hasil asesmen terbaru dari tim BPBD di lapangan. Kebutuhan pengungsi kini semakin spesifik: sanitasi, kesehatan, air bersih, pakaian layak, hingga perlengkapan kebersihan yang sangat penting dalam kondisi darurat. Tantangan distribusi pun tidak ringan—beberapa lokasi masih terisolasi, akses darat banyak yang terputus, dan situasi keamanan di beberapa titik membuat pengiriman harus diatur dengan sangat cermat.

“Kita memastikan ritme bantuan tidak terputus,” menjadi prinsip utama BPBD Jatim. Karena itu, skema pengiriman jalur udara dipilih untuk menjaga keberlanjutan bantuan sekaligus membuka opsi pengiriman susulan apabila kondisi lapangan kembali berubah dalam beberapa hari ke depan.

 

Sehari sebelum pengiriman ini, Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto meninjau kesiapan logistik di gudang BPBD. Ia menyebut antusiasme masyarakat Jawa Timur sangat tinggi. Bantuan dari OPD Pemprov, kabupaten/kota, lembaga masyarakat, hingga relawan mengalir tanpa henti. Semua bantuan diverifikasi dan dikemas ulang agar sesuai standar kedaruratan, karena ketidaktepatan barang dapat memperlambat distribusi di wilayah terdampak.

 

Meski demikian, tantangan terbesar justru berada pada jalur distribusi di Sumatera Utara dan Aceh. Kerusakan jembatan, ruas jalan yang hilang tersapu arus, serta beberapa titik yang tidak bisa diakses kendaraan berat membuat strategi distribusi harus fleksibel dan adaptif. Koordinasi dengan BPBD daerah serta aparat setempat menjadi elemen penting agar barang benar-benar sampai ke pengungsi.

 

Pengiriman lanjutan ini juga menjadi bagian dari rangkaian bantuan kemanusiaan senilai Rp5 miliar yang telah diberangkatkan sebelumnya di bawah komando Gubernur Jawa Timur. Dari sini tampak bagaimana Jatim memposisikan diri sebagai provinsi penyangga dalam sistem kebencanaan nasional—bukan menunggu instruksi, tetapi bergerak cepat berdasarkan kebutuhan lapangan.

 

Ketika bencana hidrometeorologi kini menjadi ancaman berulang, pola kolaborasi seperti yang dilakukan Pemprov Jatim memberi gambaran bahwa kapasitas daerah dapat saling menopang. Peran bandara internasional sebagai pusat percepatan distribusi menjadi bukti bahwa strategi teknis yang tepat mampu memperpendek jarak antara bantuan dan penerimanya.

 

Dan pada akhirnya, keberangkatan paket bantuan dari DMK Cargo bukan sekadar proses logistik. Ia adalah pesan solidaritas dari Jawa Timur: bahwa ketika sebagian negeri menghadapi bencana, bagian lainnya memilih untuk hadir, bergerak, dan memastikan harapan tetap hidup hingga masyarakat Sumut dan Aceh kembali bangkit. (int)