SURABAYA, PustakaJC.co - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan kesiapan Jawa Timur menjadi lumbung talenta digital nasional dengan memperkuat sektor pendidikan sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia di era transformasi digital.
Komitmen tersebut disampaikan Khofifah saat membuka Sosialisasi Program Pengelolaan Talenta Digital Nasional jenjang SMA, SMK, dan SLB se-Jawa Timur, hasil kolaborasi Pemprov Jatim melalui Dinas Pendidikan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) RI, Selasa, (20/1/2026).
Program ini ditujukan untuk menjawab kebutuhan tenaga ahli digital sekaligus menjaga daya saing bangsa melalui pembekalan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) sejak bangku pendidikan.
Sebanyak 1.330 tenaga kependidikan mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 190 peserta luring dan 1.140 peserta daring. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital BPSDM Komdigi RI Said Mirza Pahlevi serta Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai.
“Jawa Timur siap menjadi lumbung talenta digital nasional. Pengelolaan talenta harus dimulai sejak pendidikan, dilakukan secara terencana, berbasis data, serta terhubung dengan kebutuhan industri dan arah pembangunan nasional,” tegas Khofifah.
Menurutnya, Jawa Timur memiliki modal strategis yang kuat, mulai dari jumlah penduduk besar, keragaman satuan pendidikan, hingga dukungan ekosistem industri dan ekonomi kreatif yang terus tumbuh.
Khofifah menilai Program Pengelolaan Talenta Digital Nasional merupakan langkah jangka panjang untuk membangun ekosistem talenta digital yang berkelanjutan dan inklusif, dari pendidikan dasar hingga dunia kerja. Program ini juga menjadi respons atas disrupsi teknologi, kecerdasan artifisial, dan ekonomi berbasis pengetahuan.
“Pengembangan talenta digital bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga membentuk generasi muda yang adaptif, kritis, dan mampu bersaing di dunia kerja yang semakin terdigitalisasi,” ujarnya.
Ia menambahkan, transformasi pendidikan harus bergeser dari pola hafalan menuju pembelajaran mendalam yang menumbuhkan nalar kritis, kemampuan pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital.

Khofifah juga menyinggung tingginya kebutuhan tenaga kerja pada periode 2025–2030, khususnya di sektor teknologi masa depan seperti Artificial Intelligence (AI) dan big data.
“Digitalisasi justru membuka peluang kerja baru yang besar. Memang ada sektor yang menurun, tetapi peluang-peluang baru juga sangat banyak,” katanya.
Untuk itu, Pemprov Jatim menyiapkan langkah strategis lintas sektor dengan melibatkan Dinas Pendidikan, Dinas Kominfo, BPSDM, hingga Dinas Tenaga Kerja guna memastikan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
“Peran Dinas Tenaga Kerja penting untuk memastikan matching kebutuhan industri, termasuk pelatihan upskilling bagi tenaga kerja yang sudah ada,” jelas Gubernur Jatim itu.
Penguatan SDM digital dinilai semakin relevan mengingat Jawa Timur merupakan provinsi dengan sektor industri manufaktur terbesar di Indonesia, sehingga membutuhkan tenaga profesional di bidang digital IT, AI, big data, dan teknologi pendukung lainnya.
“Ini menjadi harapan baru bagi penguatan SDM Jawa Timur,” pungkasnya. (ivan)