Untuk memperkuat kolaborasi, BRIDA mengembangkan model kerja sama dari pentahelix menjadi heptahelix. Skema ini melibatkan tujuh unsur utama: pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, media, komunitas, serta pengguna (user).
“Banyak riset kampus yang bagus, tetapi terhenti karena kendala pendanaan atau tidak selaras dengan daya dukung lingkungan. BRIDA bertugas sebagai penghubung. Kami melakukan matchmaking antara peneliti dan lembaga pendanaan agar inovasi bisa dihilirisasi,” pungkas Agus.
Dengan BRIDA, Pemkot Surabaya memastikan riset tidak berhenti di meja birokrasi. Setiap inovasi harus memberi manfaat nyata, mulai dari pengelolaan mangrove hingga kebijakan kota, untuk meningkatkan kualitas hidup warga. (ivan)