Modernisasi Pertanian Dinilai Jadi Penopang Ketahanan Pangan Jawa Timur

pemerintahan | 29 Januari 2026 06:04

Modernisasi Pertanian Dinilai Jadi Penopang Ketahanan Pangan Jawa Timur
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Deni Prasetya. (dok bhirawa)

SURABAYA, PustakaJC.co - Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Deni Prasetya, menegaskan bahwa modernisasi sektor pertanian menjadi faktor krusial dalam menjaga ketahanan pangan Jawa Timur pada 2026. Hal ini penting untuk mempertahankan surplus produksi beras yang berhasil dicapai pada 2025.

 

Deni menyebut tantangan utama pertanian Jatim ke depan adalah pertumbuhan jumlah penduduk yang tidak sebanding dengan ketersediaan lahan baku. Sepanjang 2025, penyusutan lahan pertanian tercatat menembus lebih dari 1.000 hektare. Dilansir dari jatimpos.co, Kamis, (29/1/2026).

 

“Kondisi ini menuntut upaya agar nilai produksi pertanian setidaknya tetap terjaga,” kata Deni saat ditemui di DPRD Jawa Timur, Surabaya, Senin, (26/1/2026).

 

 

 

Menurutnya, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) menjadi solusi strategis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. Mulai dari penggunaan transplanter untuk percepatan tanam, combine harvester saat panen, hingga pemanfaatan drone dalam pemupukan dan perawatan tanaman.

 

Modernisasi tersebut dinilai sejalan dengan karakter generasi muda yang lebih adaptif terhadap teknologi. Namun, Deni menyoroti masih minimnya regenerasi petani, di mana mayoritas petani di Jawa Timur saat ini berusia di atas 40–45 tahun.

 

“Justru generasi muda dan milenial yang memiliki pemahaman kuat soal digitalisasi dan teknologi,” ujarnya.

 

 

 

Deni mengapresiasi langkah Kementerian Pertanian dalam memperkuat sektor pertanian melalui pembangunan infrastruktur, penyediaan benih unggul bersertifikat, dukungan alsintan, serta kebijakan stabilisasi harga.

 

Ia juga menekankan pentingnya sinergi lintas pemerintahan, dari pusat hingga desa, termasuk pemetaan potensi pertanian di 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. Menurutnya, pendekatan kebijakan harus disesuaikan dengan karakteristik wilayah, terutama daerah dengan keterbatasan lahan seperti Surabaya dan Sidoarjo.

 

“Perlu kerja sama dengan perguruan tinggi agar modernisasi pertanian bisa berjalan seiring dengan transformasi petani muda dan milenial agar semakin mencintai dunia pertanian,” pungkasnya. (ivan)