Ia mengakui, sejumlah wilayah industri di Jawa Timur seperti Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan menghadapi tantangan berupa tingginya Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK), yang menjadi salah satu perhatian investor. Selain itu, terdapat pula persoalan teknis operasional yang berkaitan dengan regulasi nasional maupun daerah.
Khofifah menegaskan, menjaga kepercayaan investor merupakan kunci agar perekonomian Jawa Timur tidak tersendat. Karena itu, Pemprov Jatim berkomitmen menjadi jembatan komunikasi antara dunia usaha dan pemangku kebijakan.
Sementara itu, Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Takonai Susumu mengungkapkan, saat ini terdapat 147 perusahaan Jepang yang berinvestasi di Jawa Timur, dengan dominasi sektor manufaktur sebanyak 93 perusahaan.