MALANG, PustakaJC.co - Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) memberikan apresiasi kepada 500 seniman dan 148 juru pelihara (jupel) cagar budaya, sekaligus menyerahkan 46 sertifikat Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia untuk 22 kabupaten/kota. Penyerahan dilakukan langsung oleh Khofifah Indar Parawansa di Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, Minggu, (22/2/2026).
Kepala Disbudpar Jatim, Evy Afianasari, mengatakan apresiasi ini merupakan bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menjaga dan memperkuat eksistensi kebudayaan lokal. Program tersebut merupakan implementasi Nawa Bhakti Satya, khususnya misi Jatim Harmoni yang berfokus pada pelestarian budaya. Dilansir dari jatimpos.co, Senin, (23/2/2026).
“Ini bukti komitmen bahwa kebudayaan bukan hanya dijaga, tetapi juga diperkuat secara administratif dan legal,” ujar Evy.
Secara simbolis, Gubernur Khofifah menyerahkan insentif kepada 10 perwakilan. Total 500 seniman masing-masing menerima Rp1.000.000 dan paket bahan pokok. Nilai ini meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, 148 juru pelihara cagar budaya menerima tunjangan kehormatan sebesar Rp1.500.000 beserta paket sembako.
Menurut Evy, kenaikan insentif ini merupakan arahan langsung gubernur sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi para pelaku budaya dalam menjaga identitas daerah. Ia juga mengungkapkan Jawa Timur kini menjadi provinsi dengan jumlah penetapan WBTB terbanyak kedua secara nasional.
Proses penetapan WBTB dimulai dari usulan pemerintah kabupaten/kota, diverifikasi Disbudpar Jatim, lalu disidangkan di hadapan tim ahli nasional hingga ditetapkan oleh pemerintah pusat.
Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah menyampaikan terima kasih kepada seluruh seniman, budayawan, dan juru pelihara cagar budaya yang telah menjaga warisan budaya Jawa Timur.
“Maturnuwun semuanya yang telah merawat cagar budaya di Jawa Timur ini,” ujar Khofifah.
Ia secara khusus mengapresiasi Budi Utomo, pelestari Topeng Panji, yang aktif mengenalkan budaya Panji hingga forum internasional ASEAN. Tingginya animo generasi muda terhadap budaya tradisional juga terlihat dari pertunjukan drama Topeng Panji yang mampu menarik sekitar 2.000 penonton.
“Artinya, napas budaya untuk melestarikan seluruh wisdom tetap bisa kita lakukan di tengah transformasi digital IT yang luar biasa,” tegasnya.
Khofifah menekankan pentingnya sinergi antara pelaku budaya, juru pelihara, dan pemerintah daerah agar warisan budaya tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi tetap hidup dan diwariskan lintas generasi.
Pengakuan nasional terhadap warisan budaya Jawa Timur juga terus bertambah. Beberapa di antaranya Nasi Boran dari Lamongan dan Budaya Tengger yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Ia juga meminta seluruh kepala daerah untuk menginventarisasi potensi budaya di wilayah masing-masing, termasuk mempercepat digitalisasi manuskrip budaya sebagai upaya pelestarian di era teknologi.
“Kalau manuskrip budaya didigitalisasi, betapa kayanya budaya Jawa Timur dan itu akan menjadi referensi budaya Indonesia dan dunia,” pungkasnya. (ivan)