SURABAYA, PustakaJC.co – Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik Timur Tengah menempatkan pemerintah pada posisi sulit. Opsi menaikkan atau menahan harga BBM sama-sama membawa konsekuensi berat bagi ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada, Fahmy Radhi, menilai pemerintah sedang menghadapi dilema antara menjaga stabilitas fiskal dan menahan laju inflasi. Dilansir dari suarasurabaya.net, Rabu, (4/3/2026).
“Kalau tidak dinaikkan BBM, tetap seperti sekarang Rp10.000 untuk Pertalite itu akan menjadi beban bagi APBN. Fiskal kita barangkali tidak kuat. Tapi kalau dinaikkan, pasti memicu inflasi,” ujarnya, Rabu, (4/3/2026).