Untuk mengantisipasi kepadatan, ALFI Jawa Timur menerapkan strategi pengalihan lokasi penumpukan kontainer. Gudang yang biasanya digunakan untuk ekspor akan dimanfaatkan sementara untuk menampung barang impor, setelah berkoordinasi dengan pihak Bea Cukai.
“Setiap tahun memang ada migrasi antarterminal, terutama untuk kontainer ekspor dan impor. Di Surabaya ada dua terminal utama, yakni Terminal Teluk Lamong dan Terminal Petikemas Surabaya,” jelasnya.
PT Pelindo Terminal Petikemas juga mengaku telah menyiapkan berbagai langkah antisipasi di sejumlah terminal yang dikelola. Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan sistem operasi terminal memungkinkan pihaknya memprediksi tingkat kepadatan dermaga maupun lapangan penumpukan kontainer.
“Kami melakukan antisipasi sejak awal, terutama untuk optimalisasi lapangan penumpukan. Kurang lebih selama 16 hari peti kemas akan berada di dalam terminal karena adanya pembatasan angkutan barang saat Lebaran,” ujarnya.