SURABAYA, PustakaJC.co – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memperkuat kapasitas relawan sebagai garda terdepan dalam penanganan bencana. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan Sekretariat Bersama Relawan Penanggulangan Bencana (SRPB) Jatim dalam kegiatan Arisan Ilmu Nol Rupiah ke-65.
Kegiatan yang diikuti sekitar 100 relawan dari berbagai organisasi mitra SRPB Jatim itu digelar di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim dengan tema “Bersiap Siagalah dalam Segala Hal.” Dilansir dari kominfojatim.go.id, Jumat, (6/3/2026).
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, menegaskan pentingnya kewaspadaan menghadapi perubahan siklus iklim yang semakin tidak menentu.
“Kita harus waspada terhadap perubahan siklus dan iklim. Kapasitas relawan harus terus dimatangkan. Jangan pernah berhenti belajar,” ujar Gatot dalam keterangan tertulis, Kamis, (5/3/2026).
Ia juga mengapresiasi konsistensi SRPB Jatim yang selama bertahun-tahun menggelar forum belajar bagi relawan melalui program Arisan Ilmu.
“Melalui Arisan Ilmu, budaya belajar di kalangan relawan terus tumbuh. Menghadapi kondisi saat ini kita tidak bisa bekerja sendiri, harus berkolaborasi dan saling menguatkan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tim Pencegahan Bidang PK BPBD Jatim Dadang Iqwandy menegaskan bahwa relawan merupakan garda terdepan saat bencana terjadi. Karena itu peningkatan kapasitas dan kompetensi harus terus dilakukan secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut peserta juga mendapatkan pelatihan manajemen survival atau kemampuan bertahan hidup saat kondisi krisis.
Materi disampaikan oleh Wawan Kimiawan, penasihat Survival Skills Indonesia, bersama Daffa Nouval dari Chapter Jawa Timur. Materi yang diberikan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif sesuai kondisi kebencanaan di Jawa Timur.
Beberapa topik yang dibahas antara lain manajemen bertahan hidup dalam kondisi darurat, teknik membaca situasi krisis, penentuan prioritas keselamatan, kesiapsiagaan individu dan tim, hingga pengelolaan perlengkapan dasar relawan atau personal survival kit.
Selain itu, peserta juga dibekali pemahaman mitigasi risiko berbasis lingkungan untuk menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang dipicu perubahan cuaca, serta penguatan mental dan kepemimpinan relawan agar mampu mengambil keputusan cepat saat situasi darurat.
Wawan menekankan bahwa konsep survival tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bertahan di alam bebas.
“Survival adalah kemampuan mengelola risiko dalam situasi apa pun. Kesiapsiagaan harus menjadi budaya, bukan sekadar respons saat bencana terjadi,” tegasnya. (ivan)