Namun demikian, faktor cuaca masih menjadi kendala utama. Kondisi mendung hingga awan tebal berpotensi menghambat visibilitas hilal di sejumlah wilayah.
“Kendala cuaca memang masih menjadi tantangan, tetapi kami tetap optimistis proses rukyat berjalan lancar,” tambahnya.
Mengacu pada kriteria imkanur rukyat yang disepakati negara anggota MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), hilal dinyatakan memenuhi syarat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat saat matahari terbenam.
Sruji menegaskan bahwa rukyatul hilal merupakan metode ilmiah sekaligus syar’i dalam penentuan awal bulan Hijriah, termasuk Idulfitri.
“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi proses ilmiah yang melibatkan para ahli falak, BMKG, serta berbagai unsur terkait,” tegasnya.