Pemulihan ditandai dengan peletakan batu pertama (groundbreaking) bersama Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, sekaligus pengelupasan simbolis bagian dinding yang terbakar.
Proyek ini mencakup rekonstruksi atap, replikasi pintu, kusen, dan engsel, hingga penataan ulang ruang terdampak. Selain itu, hasil ekskavasi arkeologi seperti balok kayu lama juga akan ditampilkan sebagai bagian edukasi.
Menariknya, pemugaran dilakukan tanpa semen. Material yang digunakan berupa mortar berbahan dasar kapur dan mineral khusus, mengikuti teknik konstruksi asli agar tidak merusak struktur lama.
“Beberapa bagian existing seperti kusen tetap dipertahankan, tidak dirombak,” kata Khofifah.