SURABAYA, PustakaJC.co - Memeringati Hari Pers Nasional 2026 dan HUT PWI ke-80 – Perempuan dinilai memegang peran strategis sebagai garda terdepan dalam arus informasi digital. Hal ini mengemuka dalam seminar yang digelar Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Jawa Timur dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional 2026 dan HUT PWI ke-80.
Bertempat di Aula Kantor PWI Jatim, Jumat, (10/4/2026), kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, termasuk komunitas Ikatan Pelukis Wanita Indonesia Jawa Timur. Dilansir dari gresiksatu.com, Sabtu, (11/4/2026).
Ketua TP PKK Jatim, Arumi Bachsin Emil Dardak, menegaskan dominasi perempuan dalam penggunaan media sosial menjadi peluang besar untuk meningkatkan literasi digital.
“Sekitar 56,3 persen pengguna media sosial adalah perempuan. Ini momentum emas bagi perempuan untuk berdaya, terutama melalui komunitas dan literasi keuangan,” ujarnya.
Namun, di balik peluang tersebut, Arumi juga mengingatkan bahaya penyebaran hoaks. Ia menekankan pentingnya kebiasaan “check and recheck” sebelum membagikan informasi di media sosial.
“Ibu-ibu harus memastikan kebenaran informasi sebelum disebarkan. Pemprov Jatim juga sudah memiliki klinik hoaks yang dikelola Kominfo,” tambahnya.
Senada, Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno, menyoroti peran ibu dalam mendampingi anak di era digital. Menurutnya, pengawasan penggunaan media sosial harus diiringi dengan doa dan bimbingan.
“Selain membatasi akses, orang tua harus memberi arahan dan doa. Karena doa ibu menjadi kekuatan penting bagi kesuksesan anak,” tegasnya.
Sementara itu, Kabid IKP Diskominfo Jatim, Putut Darmawan, mengingatkan pentingnya kontrol terhadap aktivitas digital anak. Ia menyarankan penggunaan aplikasi pengawasan untuk mencegah paparan konten negatif.
“Media sosial tidak bisa dihindari, tapi harus difilter. Orang tua perlu bijak agar anak tidak terjebak pada konten yang berbahaya,” jelasnya.
Ketua IKWI Jatim, Endang Suprapti, menegaskan perempuan—terutama ibu—memiliki posisi penting sebagai sumber informasi utama dalam keluarga.
“Ibu-ibu harus mampu menyaring informasi yang benar dan menjauhi hoaks. Dari ibu, anak-anak belajar memahami informasi,” ujar Endang.
Sementara itu, Ketua PWI Jatim, Lutfil Hakim, menilai kepercayaan keluarga terhadap informasi yang disampaikan ibu menjadi faktor kunci.
“Informasi dari ibu lebih dipercaya di lingkungan keluarga. Karena itu, ibu-ibu harus lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi,” pungkasnya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, perempuan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penjaga kualitas informasi di lingkungan keluarga. Ketelitian dan kebijaksanaan mereka menjadi benteng utama melawan hoaks di era media sosial. (ivan)