BPBD Jatim Siaga Hadapi Kekeringan, Bondowoso Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Setiap Hari

pemerintahan | 06 Juni 2026 17:16

BPBD Jatim Siaga Hadapi Kekeringan, Bondowoso Salurkan 10.000 Liter Air Bersih Setiap Hari
Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto (infografis dok PustakaJC Kreatif Tim)

SURABAYA, PustakaJC.co – Ancaman kekeringan yang mulai melanda sejumlah wilayah di Jawa Timur mendapat perhatian serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur. Di Kabupaten Bondowoso, distribusi air bersih terus dilakukan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi di tengah musim kemarau.

Berdasarkan data BPBD Jatim, BPBD Kabupaten Bondowoso mendistribusikan sedikitnya 10.000 liter air bersih setiap hari kepada warga terdampak kekeringan. Bantuan tersebut disalurkan secara bergilir ke 13 desa yang tersebar di sembilan kecamatan dengan mengerahkan dua unit truk tangki air.

 

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang terus diperkuat oleh BPBD Jawa Timur bersama pemerintah kabupaten/kota. Selain Bondowoso, sejumlah daerah lain juga mulai mengajukan bantuan distribusi air bersih seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat akibat berkurangnya sumber air permukaan dan sumur warga.

 

Kepala Pelaksana BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto, sebelumnya menegaskan bahwa masyarakat yang mengalami kesulitan akses air bersih dapat segera melaporkan kondisi tersebut kepada BPBD setempat. Jika kemampuan daerah terbatas, BPBD Jatim akan turun langsung memberikan dukungan melalui distribusi air bersih, tandon, jerigen, hingga peralatan penunjang lainnya.

Data BPBD Jatim menunjukkan potensi kekeringan masih mengancam ratusan desa di berbagai wilayah Jawa Timur. Pada musim kemarau sebelumnya, ratusan hingga lebih dari 800 desa tercatat mengalami dampak kekeringan yang memengaruhi kebutuhan air bersih masyarakat maupun aktivitas pertanian.

 

Sejumlah daerah yang menjadi perhatian antara lain Bondowoso, Mojokerto, Probolinggo, Bojonegoro, Lamongan, Pamekasan, dan Sampang. Wilayah-wilayah tersebut memiliki kerentanan tinggi terhadap penurunan debit air saat musim kemarau berlangsung.

 

Tidak hanya fokus pada penanganan darurat, BPBD Jatim juga mendorong langkah mitigasi jangka panjang melalui penguatan sistem peringatan dini, pemetaan daerah rawan kekeringan, pembangunan sarana penyimpanan air, serta edukasi pengelolaan air kepada masyarakat. Upaya ini dilakukan agar dampak kekeringan tidak berkembang menjadi krisis berkepanjangan.

Pengalaman penanganan di sejumlah daerah menunjukkan kolaborasi antara BPBD Provinsi Jawa Timur, pemerintah kabupaten/kota, relawan, serta masyarakat menjadi kunci keberhasilan dalam menjaga ketersediaan air bersih selama musim kemarau. Pada beberapa wilayah terdampak, BPBD Jatim bahkan rutin menyalurkan bantuan air bersih dan logistik pendukung sebagai bentuk respons cepat terhadap kondisi darurat.

 

Dengan prediksi musim kemarau yang masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, BPBD Jatim memastikan seluruh jajaran tetap siaga untuk merespons laporan masyarakat dan mempercepat distribusi bantuan ke wilayah terdampak. Kesiapsiagaan tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan masyarakat sekaligus meminimalkan dampak sosial dan ekonomi akibat bencana kekeringan. (int)