Di sektor minyak goreng, Bulog Jawa Timur juga terus menyalurkan Minyakita melalui pasar rakyat dan kegiatan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sepanjang April hingga Juni 2026, penyaluran Minyakita telah mencapai 2.239.405 liter, dengan sekitar 64 persen distribusi dilakukan melalui pasar rakyat.
Hasil pemantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Timur bersama Bulog, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo menunjukkan harga beras medium masih berada di kisaran Rp12.000 per kilogram atau di bawah HET.
Sementara harga beras premium tercatat Rp14.900 per kilogram, sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun harga Minyakita di kedua pasar tersebut terpantau stabil pada angka Rp15.700 per liter.
Meski demikian, sejumlah pedagang berharap pasokan Minyakita dapat ditingkatkan karena tingginya permintaan masyarakat. Langgeng menjelaskan, alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita untuk BUMN pangan seperti Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma hanya sebesar 35 persen, sedangkan 65 persen lainnya disalurkan oleh pihak swasta.
Ia juga mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Jawa Timur. Komoditas cabai rawit menjadi penyumbang utama, disusul beras.
Karena itu, pemerintah berharap berbagai program yang berjalan saat ini mampu menjaga ketersediaan pasokan pangan, menstabilkan harga beras dan minyak goreng, serta mempertahankan daya beli masyarakat.
“Program-program pemerintah yang terus dijalankan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, khususnya beras dan minyak goreng, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi dapat terkendali,” pungkasnya. (ivan)