SPHP, Bantuan Pangan dan Minyakita Jadi Tameng Pengendali Harga Pangan di Jawa Timur

pemerintahan | 08 Juni 2026 07:32

SPHP, Bantuan Pangan dan Minyakita Jadi Tameng Pengendali Harga Pangan di Jawa Timur
Aktivitas perdagangan beras dan minyak goreng di pasar tradisional yang menjadi lokasi pemantauan stabilitas harga pangan di Jawa Timur. (dok kominfo)

SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah terus memperkuat berbagai program intervensi pangan untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok di Jawa Timur. Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), Bantuan Pangan (Banpang), serta distribusi Minyakita dinilai efektif menahan laju kenaikan harga di tengah berkurangnya pasokan hasil panen akibat musim kemarau.

 

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Timur, Langgeng Wisnu Adinugroho, mengatakan beras menjadi salah satu komoditas yang mendapat perhatian khusus pemerintah karena masa panen di sejumlah daerah mulai berakhir. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Senin, (8/6/2026).

 

Menurutnya, Bulog terus menyalurkan beras SPHP ke pasar untuk menjaga kestabilan harga. Hingga awal Juni 2026, realisasi penyaluran SPHP di Jawa Timur mencapai 65.648 ton atau sekitar 66 persen dari target 98.767 ton.

 

“Dalam menjaga stabilitas harga beras, pemerintah melalui Bulog terus menggelontorkan beras SPHP ke pasar,” ujar Langgeng, Minggu, (7/6/2026).

 

 

 

Ia menjelaskan, capaian tersebut menjadi realisasi penyaluran SPHP tertinggi kedua secara nasional. Program itu diharapkan mampu menjaga harga beras medium tetap berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) sebesar Rp13.500 per kilogram.

 

Saat ini, harga beras SPHP dari gudang Bulog ditetapkan Rp11.000 per kilogram, sementara harga jual maksimal kepada konsumen sebesar Rp12.500 per kilogram.

 

Selain SPHP, pemerintah juga tengah menyalurkan Bantuan Pangan kepada 5.638.478 Penerima Bantuan Pangan (PBP) di seluruh Jawa Timur. Setiap penerima mendapatkan bantuan berupa 20 kilogram beras dan empat liter minyak goreng.

 

Untuk alokasi Februari-Maret yang masih berlangsung, total beras yang telah disalurkan mencapai 112.769 ton. Sementara distribusi minyak goreng mencapai sekitar 22,5 juta liter.

 

“Bantuan ini membantu memenuhi kebutuhan pangan keluarga penerima sekaligus mengurangi tekanan permintaan beras dan minyak goreng di pasar,” jelasnya.

 

 

 

Di sektor minyak goreng, Bulog Jawa Timur juga terus menyalurkan Minyakita melalui pasar rakyat dan kegiatan pemantauan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Sepanjang April hingga Juni 2026, penyaluran Minyakita telah mencapai 2.239.405 liter, dengan sekitar 64 persen distribusi dilakukan melalui pasar rakyat.

 

Hasil pemantauan Tim Satgas Pangan Polda Jawa Timur bersama Bulog, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Surabaya di Pasar Soponyono dan Pasar Wonokromo menunjukkan harga beras medium masih berada di kisaran Rp12.000 per kilogram atau di bawah HET.

 

Sementara harga beras premium tercatat Rp14.900 per kilogram, sesuai ketentuan yang berlaku. Adapun harga Minyakita di kedua pasar tersebut terpantau stabil pada angka Rp15.700 per liter.

 

Meski demikian, sejumlah pedagang berharap pasokan Minyakita dapat ditingkatkan karena tingginya permintaan masyarakat. Langgeng menjelaskan, alokasi Domestic Market Obligation (DMO) Minyakita untuk BUMN pangan seperti Bulog, ID Food, dan Agrinas Palma hanya sebesar 35 persen, sedangkan 65 persen lainnya disalurkan oleh pihak swasta.

 

Ia juga mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang inflasi terbesar di Jawa Timur. Komoditas cabai rawit menjadi penyumbang utama, disusul beras.

 

Karena itu, pemerintah berharap berbagai program yang berjalan saat ini mampu menjaga ketersediaan pasokan pangan, menstabilkan harga beras dan minyak goreng, serta mempertahankan daya beli masyarakat.

 

“Program-program pemerintah yang terus dijalankan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga pangan, khususnya beras dan minyak goreng, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga dan inflasi dapat terkendali,” pungkasnya. (ivan)