Penurunan ekspor migas terutama disebabkan merosotnya ekspor minyak mentah yang anjlok 49,64 persen menjadi 109,28 juta dolar AS. Selain itu, ekspor gas juga turun 13,16 persen menjadi 0,09 juta dolar AS.
Di tengah pelemahan total ekspor, sejumlah komoditas masih mencatat pertumbuhan positif. Komoditas lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan pertumbuhan 28,70 persen menjadi 1,13 miliar dolar AS. Sebagian besar komoditas tersebut diekspor ke Tiongkok dengan nilai mencapai 487,53 juta dolar AS.
Selain itu, komoditas tembaga (HS 74) naik 20,79 persen menjadi 1,18 miliar dolar AS. Kenaikan juga terjadi pada komoditas bahan kimia organik (HS 29) yang tumbuh 12,19 persen menjadi 492,04 juta dolar AS.
Sebaliknya, komoditas perhiasan atau permata (HS 71) menjadi penyumbang penurunan terbesar dengan kontraksi 40,80 persen menjadi 1,26 miliar dolar AS. Sementara itu, ekspor komoditas ikan, krustasea, dan moluska (HS 03) turut melemah 5,24 persen menjadi 479,27 juta dolar AS.
Herum mengungkapkan, selama Januari–Mei 2026, sepuluh golongan barang nonmigas terbesar berdasarkan kode HS dua digit masih memberikan kontribusi sebesar 63,84 persen terhadap total ekspor nonmigas Jawa Timur. Namun, secara keseluruhan kelompok komoditas tersebut mengalami penurunan 5,03 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.