Keberadaan event berskala nasional dan internasional tersebut juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah. Berdasarkan data yang dihimpun Disbudpar Jatim, Jember Fashion Carnaval pada 2025 mencatat perputaran ekonomi sekitar Rp60 miliar, sedangkan Festival Nasional Reog Ponorogo menghasilkan dampak ekonomi sekitar Rp18 miliar.
Tak hanya itu, penyelenggaraan event juga berdampak pada peningkatan aktivitas usaha masyarakat. Pada pelaksanaan Jember Fashion Carnaval, tercatat sekitar 4.000 pelaku UMKM turut terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi yang mendukung penyelenggaraan acara.
“Ini luar biasa. Event bukan hanya menjadi tontonan, tetapi mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, UMKM, hingga sektor jasa lainnya,” katanya.
Evy menjelaskan, meningkatnya skala event juga mendorong pertumbuhan sektor akomodasi dan perhotelan. Kebutuhan tempat menginap bagi wisatawan dan peserta kegiatan menjadi salah satu faktor penting yang harus disiapkan daerah penyelenggara.
Menurutnya, penyelenggaraan event juga berdampak pada peningkatan lama tinggal wisatawan. Karena itu, Disbudpar Jatim mendorong agar event tidak hanya berlangsung satu hari, melainkan dikembangkan menjadi rangkaian kegiatan selama beberapa hari.
“Kami terus mendorong agar event dibuat minimal tiga hari. Dengan begitu wisatawan bisa tinggal lebih lama, menikmati destinasi wisata lain, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat setempat,” ujarnya.