Di bidang pendidikan, Cahyo menyoroti masih adanya anak putus sekolah, kesenjangan akses dan mutu pendidikan, keterbatasan fasilitas bagi anak penyandang disabilitas, serta masih ditemukannya kasus perundungan dan kekerasan di lingkungan sekolah.
Menurutnya, setiap satuan pendidikan harus mampu menghadirkan ruang belajar yang aman, inklusif, dan nyaman sehingga seluruh anak memiliki kesempatan yang sama untuk belajar serta mengembangkan potensi diri.
Selain pendidikan, ia menilai sektor kesehatan juga memerlukan perhatian serius. Tantangan yang dihadapi tidak hanya terkait akses terhadap layanan kesehatan, tetapi juga pemenuhan gizi, kesehatan mental, kesehatan reproduksi remaja, cakupan imunisasi, hingga deteksi dini gangguan tumbuh kembang anak.
Karena itu, Cahyo mendorong penguatan upaya promotif dan preventif melalui peningkatan ketahanan keluarga, pengembangan sekolah yang inklusif, optimalisasi peran posyandu, serta peningkatan kepedulian masyarakat terhadap tumbuh kembang anak.
Ia juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak, baik fisik, seksual, verbal, maupun kekerasan di ruang digital, masih menjadi persoalan serius yang membutuhkan penanganan secara komprehensif. Menurutnya, banyak kasus baru terungkap setelah berlangsung cukup lama karena korban takut melapor atau belum tersedianya sistem pengaduan yang mudah diakses, aman, dan berpihak kepada korban.