SURABAYA, PustakaJC.co - Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai kawasan konservasi Jawa Timur terus menguras energi petugas. Panjangnya durasi pemadaman dan terus bermunculannya titik api baru membuat tim gabungan di lapangan berada di titik nadir kelelahan.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur, Nur Patria Kurniawan, tak menampik beratnya medan dan intensitas kerja yang tak kunjung mereda.
“Capek ini, saya sudah 'KO',” ungkap Nur Patria blak-blakan saat mengonfirmasi perkembangan penanganan karhutla di wilayahnya, dikutip dari kompas.com, Senin, (21/9/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan betapa peliknya perjuangan tim BBKSDA Jawa Timur bersama para relawan dan instansi terkait yang telah berpekan-pekan bertaruh tenaga melumpuhkan si jago merah.
Pasukan Digeser, Bantuan Water Bombing Dibagi
Di tengah terbatasnya sumber daya dan personel, BBKSDA Jatim terpaksa menerapkan taktik pergeseran pasukan (BKO) secara dinamis. Tim yang semula disiagakan di kawasan Pegunungan Ijen, misalnya, kini harus ditarik dan dipindahkan ke Pegunungan Argopuro lantaran kobaran api di sana masih membara.
"Teman-teman BKO saya geser ke Argopuro karena di sana apinya belum padam," tutur Nur Patria.
Tak hanya mengandalkan jalur darat, operasi pemadaman juga dibantu oleh helikopter water bombingdari udara. Namun, unit udara tersebut harus menangani beberapa titik bencana sekaligus di Jawa Timur, termasuk kawasan Bromo dan Argopuro-Welirang, sehingga fokus pemadaman tidak bisa terkonsentrasi di satu titik saja.
Titik Api Baru Bermunculan di Ungup-Ungup
Kondisi kian pelik ketika petugas kembali mendeteksi tiga titik api (fire spot) baru di kawasan Cagar Alam Merapi Ungup-Ungup. Penemuan ini memaksa tim gabungan kembali melakukan pendinginan (cooling down) secara maraton guna mencegah api merembet lebih luas.
Nur Patria menegaskan, suatu wilayah konservasi tidak bisa serta-merta dinyatakan aman hanya karena kobaran api utama sudah tak terlihat. Standar operasional mewajibkan area tersebut benar-benar steril dari titik panas (hotspot), titik api (fire spot), dan kepulan asap selama kurun waktu tertentu.
“Kalau seminggu berturut-turut hasil pendinginan menunjukkan tidak ada hotspot maupun fire spot, dan tidak ada laporan masyarakat tentang gumpalan asap, baru kami pastikan lagi lewat patroli manual dan udara,” tegasnya.
Hingga saat ini, pemantauan ketat serta patroli darat dan udara terus digencarkan untuk memastikan tidak ada lagi potensi amukan api susulan. (ivan)