Patroli Air Jatim Libatkan Industri, Temukan Bangunan Baru di Sempadan Sungai Surabaya

pemerintahan | 28 Oktober 2026 08:00

 

Selain memeriksa kualitas air, tim patroli menemukan sejumlah bangunan baru di sempadan sungai yang disebut muncul dalam kurun waktu sekitar satu bulan terakhir. Bangunan tersebut meliputi kandang ayam, kolam budidaya lele, tempat kos, hingga perluasan bangunan industri di tepi aliran sungai.

 

Tim juga menemukan tumpukan tong pengapung yang diduga dipersiapkan untuk pembangunan jembatan terapung baru. Berbagai temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dan pengawasan lanjutan.

 

Persoalan lain yang menghambat patroli adalah pertumbuhan eceng gondok yang sangat padat. Kondisi tersebut menyulitkan pergerakan perahu sehingga tim tidak dapat melanjutkan penyisiran hingga kawasan Gunung Sari. Perahu akhirnya harus diangkut di titik perbatasan Karangpilang dengan Surabaya.

 

Imam mengatakan, seluruh temuan lapangan akan dirangkum dalam laporan resmi dan rekomendasi tindak lanjut kepada Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas serta instansi pembina terkait, sesuai tugas dan kewenangan masing-masing.

 

“Temuan bangunan liar di sempadan sungai hingga pembersihan eceng gondok ini membutuhkan sinergi ‘siapa berbuat apa’ sesuai kewenangan. Jasa Tirta sendiri sudah mengoperasikan alat berat Kualanamu untuk pembersihan eceng gondok. Kami ingin keterbukaan ini membuat semua pihak paham bahwa tim di lapangan terus bekerja keras menjaga kelestarian Sungai Surabaya,” tegasnya.

 

Ia menambahkan, persoalan sungai tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Pengawasan pencemaran, penertiban bangunan yang tidak sesuai ketentuan, dan pengendalian eceng gondok membutuhkan koordinasi lintas instansi agar penanganan berjalan lebih efektif.

 

Sungai Berpotensi Jadi Sarana Edukasi Lingkungan

 

Sementara itu, Dosen Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Mustaqim, menilai kegiatan susur sungai selama hampir lima jam dari Jetis hingga Surabaya menunjukkan potensi sungai untuk dikembangkan sebagai sarana edukasi lingkungan, eduwisata, dan pemberdayaan masyarakat lokal.

 

Menurutnya, sungai tidak hanya berfungsi sebagai ekosistem dan sumber air, tetapi juga dapat menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

 

Ia mendorong penguatan edukasi agar masyarakat dan pelaku usaha tidak membuang sampah maupun limbah sembarangan. Upaya tersebut, lanjutnya, perlu dilakukan melalui pendekatan pentahelix yang melibatkan akademisi, pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan media massa.