Melalui program tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan di ruang kelas, tetapi juga terlibat langsung dalam proses produksi pangan dan pengembangan kewirausahaan.
Sejumlah sekolah telah mengembangkan budidaya ikan nila, peternakan ayam potong dan ayam petelur, hingga produksi melon dan sayuran. Hasil produksi tersebut kemudian dipasarkan kepada masyarakat maupun melalui media sosial.
Pemprov Jatim juga mendorong pengembangan kemitraan dengan pelaku usaha dan offtaker. Bahkan, beberapa sekolah telah menjalin kerja sama dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menyalurkan hasil produksi pangan.
Selain memperkuat ketahanan pangan, SIKAP turut mengintegrasikan pengelolaan lingkungan melalui pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk dan pengolahan sampah anorganik guna mengurangi pencemaran.
Pemprov Jatim juga menjajaki kerja sama pemasaran komoditas cabai, daun pandan, dan serai dengan Saria Raya Jepang.
Untuk memastikan keberlanjutan program, pembinaan dilakukan secara berjenjang melalui Dinas Pendidikan Jatim, kepala cabang dinas pendidikan, serta Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS). Khofifah juga melakukan pemantauan langsung terhadap pelaksanaan program di sejumlah sekolah.
Menurut Khofifah, penguatan ketahanan pangan dapat dimulai dari optimalisasi lahan yang tersedia tanpa harus bergantung pada kawasan pertanian berskala luas.
“Untuk membangun ketahanan pangan tidak harus dengan luasan berhektare-hektare, tetapi dari area yang ada sebetulnya memiliki potensi untuk bisa dimaksimalkan,” ungkapnya.