SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengenang momen tak terduga ketika dirinya ditunjuk Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur untuk menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada 1999.
Kisah tersebut disampaikan Khofifah di hadapan istri Gus Dur, Sinta Nuriyah Wahid, dan putrinya, Alisa Wahid, dalam agenda Fatima Al Fihriya Award di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat, (6/11/2026).
Khofifah menceritakan, saat itu dirinya masih menjadi anggota DPR RI. Gus Dur kemudian memintanya menghubungi Prof Saparinah Sadli untuk datang ke Istana Presiden. Saparinah yang dikenal sebagai akademisi, pendidik, dan pejuang hak asasi manusia, khususnya isu gender dan pemberdayaan perempuan, direncanakan menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Dilansir dari kompas.com, Sabtu, (7/11/2026).
“Gus Dur dawuh (mengatakan), saya menelepon Prof. Saparinah untuk menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan. Besok paginya Bu Prof. Saparinah datang ke istana,” kata Khofifah.
Namun, rencana tersebut justru berujung pada penunjukan dirinya. Pada hari yang sama sekitar pukul 13.00 WIB, Saparinah menghubungi Khofifah yang saat itu sedang menghadiri seminar tentang tujuh miliar penduduk dunia.
Dalam percakapan melalui telepon tersebut, Saparinah meminta Khofifah untuk menerima posisi Menteri Pemberdayaan Perempuan.
“Prof. Saparinah menelepon saya, ‘Khof, yang jadi menteri kamu saja, yang jadi menteri kamu saja’. ‘Lho kan saya kemarin yang menelepon Prof. Saparinah’. ‘Iya Khof, I’m too old to be a minister’,” ungkapnya.
Khofifah mengatakan, saat itu Saparinah telah berusia 70 tahun. Sementara dirinya masih berusia 34 tahun sehingga sempat merasa ragu untuk menerima jabatan tersebut.
Keesokan harinya, Khofifah kembali menemui Gus Dur untuk memastikan penunjukan itu. Ia menyampaikan keraguannya karena merasa usianya masih terlalu muda untuk mengemban tanggung jawab sebagai menteri.
“Jadi, kalau Gus Dur sudah paring, posisinya seperti itu. Besok paginya saya masih sowan Gus Dur. ‘Gus Dur, mboten Gus Dur, rasanya saya kok jadi menteri, umur 34 waktu itu’,” tuturnya.
Meski sempat ragu, Khofifah akhirnya menerima amanah tersebut. Ia kemudian menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan pada 29 Oktober 1999 hingga 23 Juli 2001 dalam Kabinet Persatuan Nasional di bawah pemerintahan Gus Dur.
Perjalanan Khofifah di pemerintahan berlanjut beberapa tahun kemudian. Pada 2014, ia kembali dipercaya menduduki jabatan menteri di era Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Sosial.
Kini, Khofifah menjalani periode kedua kepemimpinannya sebagai Gubernur Jawa Timur. Ia menilai perjalanan panjang dalam berbagai posisi pemerintahan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran, termasuk membangun kepemimpinan melalui kesederhanaan dan kemauan untuk mendengarkan.
“Dan kemudian tahun 2014, kembali menjadi menteri, zaman Pak Jokowi Menteri Sosial, dan hari ini menjadi gubernur periode yang kedua. Dari berbagai perjalanan penuh dengan kesederhanaan dan penuh dengan proses mendengarkan, mendengarkan,” pungkasnya. (ivan)