Khofifah Sebut Ekonomi Jatim Tumbuh 5,83 Persen, Tertinggi se-Pulau Jawa

parlemen | 07 November 2026 15:56

 

Sementara itu, sektor konstruksi mencatat pertumbuhan sebesar 8,18 persen. Adapun pertumbuhan tertinggi berdasarkan lapangan usaha terjadi pada sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 11,29 persen.

 

Kinerja sektor akomodasi dan makan minum tersebut didukung oleh berbagai kegiatan lokal maupun nasional, serta peningkatan realisasi program Makan Bergizi Gratis (MBG).

 

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi komponen terbesar dalam perekonomian Jawa Timur dengan kontribusi mencapai 60,60 persen. Komponen tersebut tumbuh sebesar 5,72 persen.

 

Di sisi lain, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,37 persen.

 

Khofifah menilai, penguatan daya beli masyarakat dan peningkatan investasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah.

 

“Daya beli masyarakat harus terus kita jaga. Pada saat yang sama, kita perlu memastikan investasi yang masuk dapat memperkuat kapasitas produksi dan membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.

 

Secara tahunan atau year-on-year (y-on-y), ekonomi Jawa Timur pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 5,82 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,47 persen.

 

Sementara secara triwulanan atau quarter-to-quarter (q-to-q), perekonomian Jatim tumbuh 1,80 persen dibandingkan triwulan II 2026.

 

Pertumbuhan ekonomi tersebut turut diikuti peningkatan jumlah penduduk bekerja. BPS mencatat, jumlah penduduk bekerja di Jawa Timur pada Agustus 2026 mencapai 24,36 juta orang atau bertambah 559,62 ribu orang dibandingkan periode yang sama pada 2025.

 

Adapun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Jawa Timur pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,60 persen.