SURABAYA, PustakaJC.co - Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga Hari Raya Idul Fitri meskipun harga minyak mentah dunia tengah mengalami gejolak.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa pemerintah telah mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas harga dan ketersediaan energi bagi masyarakat selama periode Ramadan hingga Lebaran.
“Saya pastikan sampai dengan Hari Raya tidak ada kenaikan harga BBM subsidi,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan Jakarta. Demikian dikutip dari Jawapos.com, jumat, (6/3/2026).
[Halaman]
Ia menjelaskan cadangan BBM nasional saat ini berada pada level aman, yakni cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 23 hari. Pemerintah juga terus menambah pasokan energi baik dari produksi dalam negeri maupun impor guna memastikan stok tetap stabil.
Menurut Bahlil, pemerintah tidak menunggu cadangan turun hingga batas minimal sebelum melakukan penambahan pasokan. Langkah ini dilakukan agar distribusi energi tetap terjaga dan tidak mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya menjelang arus mudik dan perayaan Lebaran.
"Kami sudah mengantisipasi bahwa stok BBM kita untuk menjelang Hari Raya Idul Fitri aman, termasuk dengan LPG. Jadi tidak perlu ada keraguan sekalipun terjadi dinamika global," tukasnya.
Selain BBM, pemerintah juga memastikan ketersediaan gas LPG dalam kondisi aman. Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir terhadap pasokan energi meskipun terjadi dinamika geopolitik global.
Di sisi lain, Bahlil belum merinci bagaimana kebijakan harga BBM setelah periode Lebaran berakhir. Pemerintah masih memantau perkembangan harga minyak dunia yang mengalami fluktuasi tajam akibat konflik geopolitik.
Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang berdampak pada penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz turut memicu gangguan pasokan energi global.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak mentah West Texas Intermediate ditutup naik 8,51 persen menjadi USD 81,01 per barel, sementara Brent Crude meningkat 4,93 persen menjadi USD 85,41 per barel.
Kenaikan harga ini menjadi yang paling tajam dalam beberapa tahun terakhir, bahkan mendekati lonjakan saat konflik Rusia dan Ukraina pada 2022.
Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi tersebut tidak akan berdampak pada harga BBM subsidi dalam negeri hingga masyarakat selesai merayakan Idul Fitri. (Frcn)