Farid juga memaparkan strategi percepatan penanggulangan HIV/AIDS melalui pendekatan S-TOP, yakni Suluh (edukasi), Temukan (penelusuran), Obati (inisiasi pengobatan), dan Pertahankan (dukungan berkelanjutan).
Sementara itu, Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Sulvy Dwi Anggraini, memaparkan sejumlah rekomendasi strategis untuk memperkuat keberlanjutan program penanggulangan HIV/AIDS, mulai dari desentralisasi dan jaminan pembiayaan, integrasi layanan One Stop Service, hingga penegakan hukum anti-diskriminasi.
Ketua Tim Kerja Pembangunan Manusia Bappeda Jawa Timur, Angga Ariquint Nugroho, menegaskan bahwa isu kesehatan merupakan salah satu prioritas pembangunan daerah melalui program “Jatim Sehat”.
“Saya setuju dengan pola kerja lintas sektor dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Ini bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, tapi perlu sinergi dan kolaborasi dari perangkat daerah terkait sesuai tugas dan fungsinya,” tegasnya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua IV BAZNAS Jawa Timur, Husnul Khuluq, menyatakan kesiapan BAZNAS untuk bersinergi dalam membangun dukungan sumber daya domestik bagi keberlanjutan program penanganan HIV, TBC, dan malaria di Jawa Timur.
“Forum dan kesempatan ini sangat bagus untuk kita bergerak bersama. BAZNAS akan bersinergi membangun kemitraan yang baik karena ini berkaitan dengan kesehatan masyarakat, ini persoalan umat,” katanya.
Melalui workshop ini, seluruh pihak diharapkan dapat memperkuat sinergi dan kolaborasi guna menciptakan program penanggulangan HIV/AIDS yang berkelanjutan serta mampu menjangkau lebih banyak masyarakat di Jawa Timur. (nov)