Surabaya Terapkan Belajar dari Rumah 1–4 September, Demi Jaga Psikologis Siswa di Tengah Aksi Ricuh

pendidikan | 31 Agustus 2025 19:19

Surabaya Terapkan Belajar dari Rumah 1–4 September, Demi Jaga Psikologis Siswa di Tengah Aksi Ricuh
Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Yusuf Masruh imbau siswa SD - SMP menerapkan pembelajaran WFH, setelah demo dua hari berturut-turut ricuh. (dok jawapos)

SURABAYA, PustakaJC.co - Gelombang demo ricuh yang mengguncang Surabaya dua hari terakhir membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya mengambil langkah cepat. Mulai 1 hingga 4 September 2025, siswa SD dan SMP diminta belajar dari rumah demi menjaga keamanan sekaligus kondisi psikologis mereka.

 

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh, menegaskan bahwa keputusan ini bersifat kondisional namun penting dilakukan. Dilansir dari jawapos.com, Minggu, (31/8/2025). 

 

“Betul, siswa akan melakukan pembelajaran di rumah selama 1–4 September. Dengan adanya aksi, tentu berpengaruh pada psikologis anak,” ujar Yusuf, Minggu, ( 31/8/2025).

 

 

Selama empat hari itu, sistem pembelajaran akan dilakukan secara daring dengan panduan guru melalui link tatap muka online. Siswa tetap mendapatkan tugas dengan jam belajar efektif, sehingga kualitas pembelajaran tidak terabaikan.

 

Menurut Yusuf, belajar dari rumah adalah pilihan tepat di tengah situasi kota yang belum kondusif.

 

“Kalau sementara belajar di rumah juga nggak apa, nanti metodenya daring. Jadi siswa tetap bisa belajar secara efektif,” imbuhnya.

 

 

Imbauan ini khusus untuk jenjang SD dan SMP, sementara PAUD menyesuaikan dengan kebijakan masing-masing sekolah. Yusuf juga mengingatkan para orang tua agar ikut mengawasi anak-anaknya, terutama agar tidak terlibat dalam aksi di jalanan.

 

 

“Saya bilang ke anak-anak untuk fokus saja pada pembelajaran. Saya juga berharap orang tua turut memantau kegiatan anak-anaknya,” tukasnya.

 

 

Dengan kebijakan ini, Pemkot Surabaya berharap siswa tetap bisa belajar dengan tenang, meski kondisi kota tengah diuji. Pendidikan tetap berjalan, sementara keselamatan dan psikologis anak tetap menjadi prioritas utama. (ivan)