NeuroAid, Robot Karya Pelajar SMP Surabaya Bantu Anak Autis Bangun Kepercayaan Diri

pendidikan | 28 Desember 2025 07:37

NeuroAid, Robot Karya Pelajar SMP Surabaya Bantu Anak Autis Bangun Kepercayaan Diri
Lima pelajar SMPN 1 Surabaya memperkenalkan robot cerdas 'NeuroAud' untuk melatih kemampuan komunikasi dan pengenalan emosi pada anak autis. (dok jatimpos)

SURABAYA, PustakaJC.co – Kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus mendorong lima pelajar SMP Negeri 1 Surabaya menciptakan inovasi teknologi berbasis kemanusiaan. Mereka mengembangkan NeuroAid, sebuah robot pendamping interaksi sosial yang dirancang untuk melatih kemampuan komunikasi dan pengenalan emosi pada anak autis.

 

Inovasi tersebut digagas oleh Kalila Zanetta Echaputri, Alya Prashanti Nur Rizqi Setiyono, Zahwa Aliyah Rahma, Afnan Daan Indrawan, dan Harley Fatahillah Yudhaloka Sunoto. Karya mereka sukses mengantarkan tim meraih Medali Emas pada ajang Indonesia International Applied Science Project Olympiad (I2ASPO) 2025. Dilansir dari jatimpos.co, Minggu, (28/12/2025).

 

Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Yusuf Masruh, mengapresiasi capaian tersebut. Menurutnya, NeuroAid tidak hanya menunjukkan kecakapan teknologi pelajar, tetapi juga mencerminkan nilai empati dan kepedulian sosial.

 

“Ini bukti bahwa pelajar Surabaya mampu menghadirkan teknologi sebagai solusi kemanusiaan. Mereka tidak sekadar belajar sains dan robotika, tetapi juga belajar memahami kebutuhan anak-anak berkebutuhan khusus,” ujar Yusuf Masruh, Jumat, (26/12/2025).

 

 

NeuroAid dikembangkan dari hasil riset tentang tantangan terapi perilaku anak autis yang umumnya membutuhkan biaya tinggi dan proses panjang. Robot ini dirancang sebagai pendamping yang tenang, terstruktur, dan tidak menekan anak saat berinteraksi.

 

Dengan desain ringkas dan portabel, NeuroAid dilengkapi kamera serta mikrofon untuk mengenali wajah, membaca ekspresi emosi dasar, serta memberikan respons suara dan visual yang mudah dipahami. Sistemnya dibuat sederhana dan disesuaikan dengan konteks budaya lokal, sehingga lebih mudah diterapkan dibandingkan perangkat serupa dari luar negeri.

 

Yusuf Masruh menilai keunggulan utama NeuroAid terletak pada pola interaksi yang konsisten dan dapat diprediksi, sehingga memberikan rasa aman bagi anak autis.

 

“Konsistensi sangat penting bagi anak berkebutuhan khusus. NeuroAid mampu menghadirkan pola itu dalam bentuk teknologi yang ramah anak,” jelasnya.

 

 

 

Pemkot Surabaya, lanjut Yusuf, akan mendorong agar inovasi tersebut tidak berhenti pada ajang kompetisi, melainkan dapat dikembangkan dan diimplementasikan secara bertahap di lingkungan sekolah.

 

“NeuroAid menjadi bukti bahwa sejak usia sekolah, pelajar Surabaya sudah mampu berkontribusi nyata dalam membangun pendidikan yang inklusif dan berkeadilan,” pungkasnya. (ivan)