Ia menambahkan, konsistensi menjadi kunci agar sekolah memiliki identitas digital yang kuat.
“Sekolah akan terlihat berbeda jika aktif. Idealnya, berita diunggah minimal tiga kali dalam sepekan dengan sudut pandang yang segar dan bernilai berita,” tegasnya.
Dalam sesi materi, Rudy juga menjelaskan bahwa tidak semua informasi otomatis layak disebut berita. Menurutnya, nilai berita muncul ketika peristiwa tersebut belum pernah dilaporkan, aktual, dan relevan bagi pembaca. Peserta dibekali teknik mencari sudut pandang berita melalui konsep “empat penjuru mata angin” serta pengenalan enam kategori berita, di antaranya hard news dan straight news.
Workshop ini mendorong para guru agar lebih jeli melihat peristiwa di sekolah maupun lingkungan luar, termasuk aktivitas masyarakat dan kuliner, selama memiliki nilai jurnalistik.