SURABAYA, PustakaJC.co – Pemerintah Kota Surabaya menyiapkan bantuan pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta (PTS) yang berasal dari keluarga prasejahtera. Kebijakan ini menyasar mahasiswa dari keluarga Desil 1–5 agar tidak putus kuliah akibat keterbatasan ekonomi.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, langkah tersebut diambil setelah pihaknya menerima aspirasi dari para rektor PTS yang tergabung dalam Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (ABP-PTSI) Jawa Timur. Dalam pertemuan itu, terungkap banyak mahasiswa PTS hampir drop out karena kesulitan membayar UKT. Dilansir dari kominfojatim.go.id, Selasa, (27/1/2026).
“Keluarga miskin itu banyaknya justru di PTS. Padahal, tugas saya sebagai wali kota adalah mengentaskan kemiskinan dan membantu masyarakat tidak mampu, termasuk mereka yang sedang kuliah di perguruan tinggi swasta,” ujar Eri Cahyadi, Senin, (26/1/2026).
Eri mengungkapkan, mahasiswa dari keluarga Desil 1–5 di sejumlah PTS jumlahnya mencapai ratusan orang. Salah satunya di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya yang tercatat memiliki sekitar 300 mahasiswa dari keluarga kurang mampu.
Untuk merealisasikan bantuan tersebut, Eri meminta Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya segera melakukan sinkronisasi data mahasiswa PTS dengan data milik Pemkot Surabaya. Mahasiswa yang telah terverifikasi masuk kategori Desil 1–5 akan mendapatkan bantuan UKT.
“Setelah datanya cocok, UKT-nya akan kami bantu. Bukan hanya mahasiswa baru, tapi juga mahasiswa aktif yang sedang kesulitan membayar kuliah,” tegasnya.
Menurut Eri, program ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan gerakan Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana di Kota Surabaya. Ia menegaskan tidak ingin ada lagi mahasiswa gagal menyelesaikan pendidikan hanya karena persoalan biaya.
“Jangan sampai ada mahasiswa kehilangan semangat kuliah karena takut di-DO akibat tidak mampu membayar UKT. Insyaallah, pemerintah hadir untuk mereka,” tuturnya.
Eri juga menegaskan, bantuan UKT bagi mahasiswa PTS tidak dibatasi kuota. Calon mahasiswa bebas memilih PTS manapun di Surabaya, selama memenuhi kriteria keluarga Desil 1–5 dan lolos seleksi yang berlaku.
Sementara itu, Ketua ABP-PTSI Jawa Timur sekaligus Rektor Universitas Wijaya Putra, Dr. Budi Endarto, menilai kebijakan tersebut sebagai terobosan berani. Ia menyebut, selama ini banyak mahasiswa dari keluarga miskin justru mengenyam pendidikan di PTS.
“Ini bisa menjadi gerakan yang revolusioner. Fakta di lapangan menunjukkan keluarga Desil 1–5 sangat banyak di perguruan tinggi swasta,” ujarnya.
Budi berharap, bantuan pendidikan dari Pemkot Surabaya dapat tepat sasaran dan berkelanjutan sehingga mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya dari kalangan keluarga kurang mampu. (ivan)