Emil Dardak dan Diplomat Inggris Bahas Kampus KCL Singosari hingga Proyek LRT Surabaya

pendidikan | 10 Maret 2026 09:40

Emil Dardak dan Diplomat Inggris Bahas Kampus KCL Singosari hingga Proyek LRT Surabaya
Wagub Emil Bersama Minister Counsellor for Development UK

SURABAYA, PustakaJC.co – Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menerima Minister Counsellor for Development Kedutaan Besar Inggris, Peter Rajadiston, di Kantor Gubernur Jawa Timur, Surabaya, Senin (9/3). Pertemuan ini membahas penguatan kerja sama pendidikan tinggi hingga pengembangan transportasi modern di Surabaya.

 

Kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut kesepakatan antara Presiden RI Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada awal 2026. Fokusnya mencakup pengembangan pendidikan internasional dan modernisasi transportasi perkotaan di Jawa Timur. 

 

Di sektor pendidikan, Emil mengapresiasi keberadaan program pascasarjana King’s College London di Kawasan Ekonomi Khusus KEK Singosari, Malang, yang kini bersiap memasuki angkatan ketiga.

 

Menurutnya, program tersebut membuka akses bagi generasi muda Indonesia untuk merasakan pendidikan kelas dunia tanpa harus sepenuhnya belajar di luar negeri.

 

“Konsep ini juga melibatkan berbagai instansi, termasuk LPDP, sehingga diharapkan semakin banyak anak muda potensial yang bisa mengakses pendidikan berkelas dunia,” ujar Emil.

 

 

 

Keberhasilan program itu bahkan mendorong rencana ekspansi oleh pemerintah pusat, baik melalui penambahan program studi maupun pengembangan fasilitas kampus.

 

Selain pendidikan, pembahasan juga menyoroti pengembangan transportasi perkotaan di Surabaya. Berbeda dengan proyek Surabaya Regional Railway Line (SRRL) yang memanfaatkan jalur kereta eksisting, kerja sama dengan Inggris ini akan mengkaji pembangunan jalur kereta baru.

 

Hasil studi awal menunjukkan adanya kebutuhan konektivitas baru, terutama untuk menghubungkan kawasan barat dan timur Kota Surabaya yang selama ini belum terlayani optimal.

 

“Dari hasil kajian, ada rute yang selama ini belum terisi, salah satunya dari barat ke timur Surabaya,” jelas Emil.

 

 

Dari kajian teknis yang berkembang, moda Light Rail Transit (LRT) dinilai paling sesuai untuk karakter mobilitas perkotaan Surabaya karena lebih ringkas dan efisien di wilayah padat.

 

Pertemuan tersebut juga membahas konsep pengelolaan transportasi aglomerasi terintegrasi. Emil menyebut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tertarik mempelajari model pengelolaan transportasi di London melalui sistem Transport for London.

 

Model serupa diharapkan dapat diterapkan di kawasan Surabaya Raya—meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik—agar seluruh pemangku kepentingan transportasi bisa terintegrasi dalam satu sistem manajemen.

 

Namun Emil menegaskan pembangunan transportasi publik berskala besar membutuhkan komitmen fiskal jangka panjang. Karena itu, pemerintah daerah masih akan melakukan pembahasan lanjutan bersama pemerintah pusat.

 

“Ini masih dalam tahap penajaman studi teknis. Model pembiayaan dan pengerjaannya perlu dibahas bersama pemerintah pusat karena harus ada komitmen fiskal,” ujarnya.

 

 

Sementara itu, Peter Rajadiston menyebut pertemuan ini sebagai tindak lanjut kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris pada Januari lalu.

 

Ia berharap kerja sama antara Inggris dan Jawa Timur dapat terus berkembang, khususnya dalam penguatan infrastruktur transportasi perkotaan di Surabaya dan sekitarnya.

 

“Kami menantikan kolaborasi yang berlanjut untuk memastikan pengembangan infrastruktur urban yang lebih baik di Surabaya dan wilayah sekitarnya,” katanya. (ivan)