Menurutnya, banyak pendidik PAUD masih belum siap secara teknis maupun mental dalam mendampingi ABK di kelas inklusi yang menggabungkan siswa berkebutuhan khusus dan non-ABK dalam satu lingkungan belajar.
“Sebagian besar pendidik masih merasa kurang percaya diri karena belum memiliki bekal yang memadai,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penanganan ABK tidak bisa disamakan dengan siswa lainnya. Dibutuhkan intervensi dan treatment khusus yang tepat sasaran. Namun, sebelum itu, guru harus mampu melakukan deteksi dini secara akurat.
“Kalau deteksinya tepat, maka intervensinya juga akan sesuai dan berdampak,” jelasnya.