Ia menegaskan bahwa kesetaraan tidak dimaknai sebagai upaya untuk saling menggantikan atau mengalahkan, melainkan sebagai keseimbangan peran antara laki-laki dan perempuan. Sementara itu, berpikir maju tetap harus disertai dengan sikap kritis terhadap tradisi yang menghambat kemajuan, tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya.
Terkait pemberdayaan perempuan, Adik menjelaskan bahwa Kadin Jatim mulai April hingga akhir 2026 menjalankan program pelatihan khusus bagi perempuan dan penyandang disabilitas yang akan masuk ke sektor industri ritel.
“Kita akan membantu mencarikan industri ritel yang mau menerima para perempuan yang memasuki dunia kerja. Tahun ini kita menargetkan 800 peserta, termasuk penyandang disabilitas. Jika berjalan baik, akan kita lanjutkan pada 2027 dengan 1.000 perempuan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Bidang Pemberdayaan Perempuan Kadin Jatim, Pinky Saptandari, menilai perempuan saat ini tidak hanya dituntut tangguh secara finansial, tetapi juga memiliki kemandirian dan otonomi dalam menentukan pilihan hidup.