Selain sektor pangan, Gigih menilai barang konsumsi atau end user juga berisiko mengalami kenaikan harga. Produk seperti pakaian, elektronik, suku cadang kendaraan, hingga kendaraan bermotor diperkirakan akan terdampak akibat meningkatnya biaya impor.
Ia meminta pemerintah daerah mengantisipasi kondisi tersebut agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan gejolak harga tidak semakin membebani konsumen.
Untuk meredam dampak pelemahan rupiah, Gigih mendorong adanya penguatan sistem logistik di Jawa Timur melalui pembangunan pusat pergudangan terintegrasi atau Jatim Hub. Fasilitas tersebut dinilai dapat berfungsi sebagai cadangan pasokan ketika terjadi gejolak ekonomi global maupun kenaikan nilai dolar.
“Dengan adanya gudang logistik terpusat, Jawa Timur bisa memiliki stok yang cukup untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga saat terjadi guncangan ekonomi,” jelasnya.