SURABAYA, PustakaJC.co – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Kamis (25/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Khofifah menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang transformatif, kolaboratif, dan mampu menghadirkan solusi nyata bagi berbagai persoalan masyarakat.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI ini menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas kepemimpinan pejabat pimpinan tinggi dari berbagai kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah. Para peserta memperoleh pembelajaran mengenai praktik kepemimpinan, inovasi tata kelola pemerintahan, serta penguatan kolaborasi lintas sektor.
Peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI berasal dari berbagai instansi, di antaranya Kejaksaan Agung, Polri, Kementerian Hukum, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Kementerian Ketenagakerjaan, Basarnas, Arsip Nasional RI, Sekretariat Jenderal DPR RI, Pemerintah Provinsi Gorontalo, hingga Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Didampingi Sekretaris Utama LAN RI Andi Taufik, Khofifah menyampaikan bahwa peserta PKN Tingkat I merupakan calon-calon pemimpin strategis bangsa yang akan memegang amanah besar di masa mendatang.
"Peserta PKN I Angkatan LXVI bukan sembarang orang. Ada calon jenderal, calon menteri bahkan calon sekda. Pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan fungsi administrasi pemerintahan, tetapi juga harus menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat," tegas Khofifah.
Menurutnya, tantangan birokrasi saat ini menuntut lahirnya pemimpin yang adaptif, inovatif, dan mampu membangun kolaborasi. Keberhasilan kepemimpinan tidak lagi hanya diukur dari kemampuan menjalankan administrasi, tetapi juga dari kemampuan menciptakan perubahan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dalam paparannya, Khofifah mencontohkan mantan Presiden Iran Mohammad Khatami sebagai figur pemimpin transformatif yang mampu membangun perubahan melalui pendekatan persuasif dan penguatan nilai-nilai keagamaan di tengah keterbatasan regulasi.
Ia menjelaskan, perubahan besar tidak selalu harus dimulai melalui perubahan regulasi, tetapi dapat diawali dengan membangun kesadaran dan cara pandang masyarakat. Menurutnya, pemimpin harus mampu menginspirasi, memengaruhi, dan membangun perspektif baru demi menghadirkan kemaslahatan bersama.
"Menurut saya beliau adalah pemimpin transformatif. Mereka yang mampu menemukan jalan perubahan di tengah keterbatasan. Ketika regulasi sulit ditembus, dibutuhkan pendekatan yang mampu membangun kesadaran dan perspektif baru di masyarakat," ujarnya.
Khofifah juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah kebijakan tidak dapat dicapai secara individual. Kolaborasi menjadi kunci utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif.
"Kita sukses karena kita bersama-sama. Tidak ada keberhasilan yang diraih sendirian. Yang terpenting adalah bagaimana kehadiran kita mampu memberi manfaat bagi masyarakat, anfa'uhum linnas," katanya.
Sementara itu, Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI Tri Widodo Wahyu Utomo mengapresiasi komitmen Gubernur Khofifah dalam membangun kompetensi aparatur sipil negara di Jawa Timur. Menurutnya, Jawa Timur telah menjadi salah satu daerah yang konsisten melahirkan peserta PKN berprestasi hingga masuk lima besar tingkat nasional.
(int)