Nyai Ainiyah Yusuf

Cahaya yang Mengakar di Pesantren Mambaus Sholihin

tokoh | 08 Januari 2026 06:20

Cahaya yang Mengakar di Pesantren Mambaus Sholihin
Bu Nyai Ainiyah tampak duduk di atas kursi roda, didampingi KH Masbuhin Faqih, Pengasuh Pondok Pesantren Mambaus Sholihin. (dok nuonline)

GRESIK, PustakaJC.co - Nama Nyai Ainiyah Yusuf tak terpisahkan dari sejarah dan pertumbuhan Pesantren Mambaus Sholihin, Desa Suci, Kabupaten Gresik. Ia bukan sekadar pendamping KH Masbuhin Faqih, melainkan fondasi keteguhan pesantren yang kini memiliki 10 cabang di berbagai daerah Indonesia.

 

Lahir pada 30 Oktober 1952, Nyai Ainiyah tumbuh dalam tradisi keilmuan pesantren. Sejak menikah pada 1968, ia setia berkhidmah bersama sang suami, termasuk saat hidup serba terbatas di Pesantren Langitan, Tuban. Ketika KH Masbuhin diperintah gurunya untuk merintis pesantren sendiri, Nyai Ainiyah menjadi penopang utama keluarga. Dilansir dari nu.or.id, Kamis, (8/1/2026).

 

Saat usaha ekonomi sang suami tak membuahkan hasil, Nyai Ainiyah mengambil peran penuh. Ia berjualan es lilin, nasi bungkus, dan menabung sedikit demi sedikit. Perhiasan hasil jerih payahnya bahkan pernah diserahkan penuh untuk pembebasan lahan pesantren—sebuah kisah yang masyhur di kalangan santri.

 

Di lingkungan pondok, Nyai Ainiyah dikenal telaten dan disiplin. Ia mengurus kebersihan, menu makan santri, kantin, hingga menjadi imam shalat di pondok putri. Ia juga istiqamah membaca Burdah setiap pagi dan sore, bahkan saat sakit stroke dan harus menggunakan kursi roda.