Rohana secara terbuka menolak poligami, mengkritik eksploitasi buruh perempuan di perkebunan Deli, mengecam praktik pergundikan, serta mendorong perempuan agar mandiri secara ekonomi melalui keterampilan. Baginya, keahlian perempuan bukan sekadar tradisi, tetapi potensi ekonomi yang harus dikembangkan.
Setelah Soenting Melajoe berhenti terbit pada 1921, Rohana tetap aktif di dunia pers. Ia memimpin redaksi Perempuan Bergerak, menjadi redaktur sejumlah surat kabar di Padang dan Medan, serta terus menulis hingga akhir hayatnya. “Aku ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong kaum perempuan,” tulis Rohana dalam salah satu artikelnya.
Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Agam, pada 20 Desember 1884. Ia berasal dari keluarga intelektual: kakak tiri Perdana Menteri pertama RI Sutan Sjahrir, bibi penyair Chairil Anwar, dan sepupu KH Agus Salim. Pada 6 November 2019, Presiden Joko Widodo resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rohana Kudus.
Lebih dari satu abad berselang, warisan Rohana tetap hidup: pers bukan sekadar media informasi, tetapi senjata kesadaran—terutama bagi perempuan yang ingin berdiri setara dan merdeka. (ivan)