SURABAYA, PustakaJC.co – Nama Rohana Kudus tercatat kuat dalam sejarah pers Indonesia. Jurnalis perempuan asal Sumatera Barat ini menjadi pelopor pers berperspektif perempuan sejak awal 1900-an, jauh sebelum Indonesia merdeka. Lewat tulisan-tulisannya, Rohana memperjuangkan kesetaraan, pendidikan, dan martabat perempuan di tengah kuatnya belenggu kolonialisme dan budaya patriarki.
Karier jurnalistik Rohana dimulai di Poetri Hindia, surat kabar perempuan pertama di Indonesia yang terbit pada 1 Juli 1908 dan diprakarsai Tirto Adhi Soerjo. Setelah koran tersebut dibredel pemerintah Hindia Belanda, Rohana tak mundur. Ia justru mendirikan Soenting Melajoe pada 10 Juli 1912, yang kemudian dikenal sebagai salah satu surat kabar perempuan paling berpengaruh di tanah Melayu. Dilansir dari nu.or.id, Minggu, (1/2/2026).
Hidup sezaman dengan RA Kartini, Rohana menyadari bahwa perjuangan perempuan tak cukup hanya lewat pendidikan formal. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia, ia memilih media sebagai alat perlawanan. Dalam Soenting Melajoe, Rohana dan rekan-rekannya menjadikan pers sebagai ruang aman bagi perempuan untuk menyuarakan gagasan, mengkritik ketidakadilan, serta membangkitkan kesadaran kebangsaan.
Penelitian Lia Anggia Nasution mencatat, media perempuan kala itu—termasuk Soenting Melajoe—menjadi wadah perlawanan terhadap budaya patriarki sekaligus kebijakan kolonial Belanda yang merugikan perempuan. Isinya tak hanya artikel opini, tetapi juga sastra, puisi, sejarah, hingga kritik sosial yang tajam.
Rohana secara terbuka menolak poligami, mengkritik eksploitasi buruh perempuan di perkebunan Deli, mengecam praktik pergundikan, serta mendorong perempuan agar mandiri secara ekonomi melalui keterampilan. Baginya, keahlian perempuan bukan sekadar tradisi, tetapi potensi ekonomi yang harus dikembangkan.
Setelah Soenting Melajoe berhenti terbit pada 1921, Rohana tetap aktif di dunia pers. Ia memimpin redaksi Perempuan Bergerak, menjadi redaktur sejumlah surat kabar di Padang dan Medan, serta terus menulis hingga akhir hayatnya. “Aku ingin berbuat lebih banyak lagi untuk menolong kaum perempuan,” tulis Rohana dalam salah satu artikelnya.
Rohana Kudus lahir di Koto Gadang, Agam, pada 20 Desember 1884. Ia berasal dari keluarga intelektual: kakak tiri Perdana Menteri pertama RI Sutan Sjahrir, bibi penyair Chairil Anwar, dan sepupu KH Agus Salim. Pada 6 November 2019, Presiden Joko Widodo resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rohana Kudus.
Lebih dari satu abad berselang, warisan Rohana tetap hidup: pers bukan sekadar media informasi, tetapi senjata kesadaran—terutama bagi perempuan yang ingin berdiri setara dan merdeka. (ivan)