Gus Awis

Mufasir Pesantren yang Menjaga Warisan dan Menjawab Tantangan Zaman

tokoh | 30 Mei 2026 08:28

Mufasir Pesantren yang Menjaga Warisan dan Menjawab Tantangan Zaman
Kiai Muhammad Afifuddin Dimyathi. (dok nuonline)

JOMBANG, PustakaJC.co Di tengah arus pemikiran Islam kontemporer yang terus berkembang, nama Kiai Muhammad Afifuddin Dimyathi atau yang akrab disapa Gus Awis muncul sebagai salah satu mufasir pesantren yang konsisten menjaga khazanah klasik sekaligus merespons isu-isu kekinian.

 

Lahir di Jombang, 7 Mei 1979, Gus Awis tumbuh dalam lingkungan pesantren yang kuat secara tradisi keilmuan. Ia merupakan putra KH. Ahmad Dimyathi, pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum, serta Nyai Hj. Muflihah yang masih memiliki garis keturunan ulama besar KH. Ahmad Marzuki Zahid, pengasuh Pesantren Langitan. Dilansir dari nu.or.id, Sabtu, (30/5/2026).

 

Sejak kecil, ia ditempa dalam tradisi pendidikan Islam, mulai dari MIN Rejoso, MTs PK Darul Ulum, hingga MA Keagamaan Negeri Jember. Perjalanan intelektualnya berlanjut dengan menghafal Al-Qur’an di Sunan Pandanaran Yogyakarta, sebelum kemudian melanjutkan studi ke Al-Azhar Kairo pada Fakultas Ushuluddin bidang tafsir. Ia juga menempuh pendidikan pascasarjana di Khartoum International Institute for Arabic Language dan Neelain University.

 

Perpaduan pendidikan pesantren dan akademik internasional membuat Gus Awis dikenal sebagai ulama yang memiliki dua kekuatan: kedalaman tradisi dan keluasan metodologi modern. Ia aktif mengajar di sejumlah perguruan tinggi seperti UIN Sunan Ampel Surabaya dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

 

Dalam dunia akademik, ia produktif menulis berbagai karya ilmiah berbahasa Arab, di antaranya Al-Mu?adarah fi Ilm al-Ijtima, Mawarid Al-Bayan fi ‘Ulum Al-Qur’an, hingga Al-Syamil fi Balaghah Al-Qur’an.