Sebuah Telaah tentang Error Kecil dalam Tata Ruang Oligarki
SURABAYA, PustakaJC.co - Dalam ritus politik modern, ada satu dogma sekuler yang kerap dianggap lebih sakral daripada pasal-pasal konstitusi: uang adalah pelapis kedap suara terbaik. Selama bertahun-tahun, publik dipaksa menerima sebuah kenyataan yang terasa lumrah, bahwa kekuasaan tidak selalu dibangun oleh gagasan, melainkan sering kali ditopang oleh kemampuan finansial untuk mengendalikan persepsi.
Di dalam ekosistem semacam itu, lembaran uang tidak hanya berfungsi sebagai alat transaksi ekonomi, tetapi juga menjelma instrumen sosial dan politik yang memiliki daya magis. Ia mampu mengubah citra, memoles reputasi, bahkan mengaburkan batas antara benar dan salah. Sosok yang memiliki catatan buruk terhadap lingkungan dapat tampil sebagai pejuang konservasi. Politisi yang minim rekam jejak bisa mendadak tampil sebagai tokoh perubahan. Semua dapat direkayasa selama ada modal yang cukup untuk membeli panggung dan mengatur narasi.
Namun, bayangkan sebuah situasi yang mungkin paling menakutkan bagi para pemilik modal politik. Sebuah momen ketika uang, yang selama ini dipercaya mampu menyelesaikan hampir semua persoalan, tiba-tiba kehilangan daya kerjanya. Sebuah hari ketika dompet kehilangan kesaktiannya, dan kesunyian tidak lagi dapat dibeli.