Hadipras

Antara Algoritma dan Gentong Babi: Wajah Ganda Demokrasi 5.0

tokoh | 14 Mei 2026 16:05

Antara Algoritma dan Gentong Babi: Wajah Ganda Demokrasi 5.0
Hadi Prasetyo (foto istimewa)

SURABAYA, PustakaJC.co - Dunia hari ini sedang terobsesi dengan angka "5.0". Sebuah visi peradaban di mana teknologi bukan lagi sekadar alat, melainkan ruh yang menyatu dengan kemanusiaan untuk menyelesaikan masalah sosial. Dalam politik, kita membayangkan sebuah Demokrasi 5.0 yang transparan, berbasis data, dan bebas dari bias manusia yang korup. Namun, di balik kemilau layar sentuh dan integrasi Artificial Intelligence, ada sebuah hantu tua yang menolak pergi dari panggung kekuasaan kita, yaitu "Politik Gentong Babi" (Pork Barrel Politics).

 

Untuk memahami mengapa istilah ini terdengar begitu "amis", kita harus kembali ke Amerika Serikat abad ke-19. Kala itu, daging babi asin disimpan dalam gentong-gentong kayu besar. Di perkebunan-perkebunan, para pemilik budak akan membagikan daging tersebut kepada para budak sebagai bentuk "kebaikan hati".

 

Situasinya kompetitif dan brutal: siapa yang cepat, dia yang mendapat daging paling banyak. Praktik ini kemudian menjadi metafora politik yang sempurna pada tahun 1870-an. APBN diibaratkan sebagai gentong daging tersebut. Para politisi berlomba-lomba "mencuwil" atau menyisipkan anggaran negara untuk dibawa pulang ke daerah pemilihannya (dapil) masing-masing guna mengamankan suara. Filosofinya sederhana namun merusak: kepatuhan rakyat dibeli dengan "potongan daging" yang sebenarnya adalah milik mereka sendiri.