KH Abdullah Faqih menempuh pendidikan pesantren dalam waktu relatif singkat. Ia belajar kepada sejumlah ulama besar, di antaranya KH Ma’shum Lasem, KH Abul Fadhol Senori, dan Mbah Dalhar Watucongol.
Meski masa belajarnya tidak lama, proses riyadhoh yang dijalaninya sangat keras. Saat mondok di Lasem, ia hidup sederhana dan sering hanya makan nasi dengan sambal korek.
Kesederhanaan itu menjadi bagian dari karakter wara’ yang melekat pada dirinya. Bahkan hingga akhir hayatnya, ia dikenal hanya memiliki tidak lebih dari tiga sarung.
Dalam perjalanan spiritualnya, KH Abdullah Faqih menekankan konsep Thariqat at-Ta’lim, yakni jalan spiritual yang berlandaskan ilmu. Baginya, tidak ada kedekatan kepada Allah tanpa dasar ilmu syariat.