Jejak Tokoh Pesantren

Mengenal Gus Yusuf Chudlori, Kiai Pengasuh Pesantren yang Ramai Dibicarakan Jelang Muktamar NU

tokoh | 05 Juli 2026 15:57

Mengenal Gus Yusuf Chudlori, Kiai Pengasuh Pesantren yang Ramai Dibicarakan Jelang Muktamar NU
KH Muhammad Yusuf Chudlori. (dok bangkitmedia)

JOMBANG, PustakaJC.co – Nama KH Muhammad Yusuf Chudlori atau yang akrab disapa Gus Yusuf semakin sering diperbincangkan menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 1–5 Agustus 2026. Pengasuh Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Magelang, itu menjadi salah satu tokoh yang disebut masuk dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

 

Lahir di Magelang, Jawa Tengah, pada 9 Juli 1973, Gus Yusuf tumbuh di lingkungan pesantren. Pendidikan keagamaannya ditempuh di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, kemudian melanjutkan pendalaman ilmu di Pesantren Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, dan Pesantren Salafiyah Bulus, Kebumen. Dilansir dari harianjatim.com, Minggu, (5/7/2026).

 

Sejak 2011, ia melanjutkan estafet kepemimpinan Pondok Pesantren API Tegalrejo setelah wafatnya sang kakak, KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur. Selain mengasuh pesantren, Gus Yusuf juga aktif mengembangkan kegiatan seni budaya, pembinaan generasi muda, serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan di Magelang.

 

Di bidang organisasi dan politik, Gus Yusuf pernah memimpin DPC PKB Kabupaten Magelang pada 1999–2007. Ia juga pernah menjabat sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPW PKB Jawa Tengah sebelum kembali dipercaya menjadi Ketua DPW PKB Jawa Tengah sejak 2013.

 

 

 

Pada awal 2026, Gus Yusuf memutuskan mengakhiri seluruh jabatan strukturalnya di PKB setelah masa kepengurusan berakhir. Keputusan tersebut diambil agar dapat lebih fokus mengabdikan diri pada dunia pendidikan, pesantren, dan pengembangan lembaga pendidikan, termasuk perintisan Ma’had Aly serta sekolah vokasi berbasis pesantren.

 

Menjelang Muktamar NU, Gus Yusuf diketahui aktif bersilaturahmi dengan pengurus NU di berbagai daerah. Dalam sejumlah kesempatan, ia menyampaikan telah mengunjungi lebih dari 200 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan belasan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) sebagai bagian dari komunikasi organisasi.

 

Namanya kemudian masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU bersama sejumlah tokoh NU lainnya. Sejumlah kalangan menilai pengalaman Gus Yusuf di lingkungan pesantren, organisasi kemasyarakatan, dan politik menjadi modal penting dalam dinamika kepemimpinan NU di abad kedua.

 

Meski demikian, hingga saat ini proses pemilihan Ketua Umum PBNU masih akan ditentukan melalui mekanisme Muktamar ke-35 NU. Seluruh nama yang berkembang di ruang publik masih merupakan bagian dari dinamika menjelang forum permusyawaratan tertinggi organisasi tersebut. (ivan)