BANYUWANGI, PustakaJC.co — PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daerah Operasi (Daop) 9 Jember tengah merenovasi tiga stasiun di Banyuwangi dengan sentuhan nuansa adat Osing, suku asli Banyuwangi. Ketiganya yakni Stasiun Ketapang, Stasiun Banyuwangi Kota, dan Stasiun Kalisetail.
Manajer Hukum dan Humas KAI Daop 9 Jember, Cahyo Widiantoro, mengatakan, peningkatan jumlah penumpang ke Banyuwangi setiap tahun mendorong renovasi tersebut. Dilansir dari jatimpos.co, Jumat, (17/10/2025).
“Penumpang di tiga stasiun itu terus meningkat, terutama menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru. Renovasi ini untuk meningkatkan kenyamanan sekaligus menonjolkan ciri khas lokal Banyuwangi,” ujarnya, Kamis, (16/10/2025).
Berdasarkan data triwulan III tahun 2025, Stasiun Jember masih mencatat jumlah penumpang tertinggi di wilayah Daop 9. Namun jika tiga stasiun di Banyuwangi digabungkan, totalnya justru menempati posisi teratas.
Renovasi paling besar dilakukan di Stasiun Ketapang, meliputi hall utama, ruang boarding, serta area jogging track di sisi utara.
Pekerjaan dimulai sejak Juli 2025 dan ditargetkan rampung pada Desember 2025 agar bisa digunakan optimal jelang masa angkutan Nataru 2026.
Untuk Stasiun Banyuwangi Kota, pekerjaan difokuskan pada peninggian atap bangunan lama agar selaras dengan desain modern bangunan baru. KAI juga memperbarui peron dan atap agar serasi dengan lingkungan sekitar. Target penyelesaian proyek ini pada Maret 2026.
Sementara di Stasiun Kalisetail, KAI menata ulang pintu masuk, gate parkir, dan area parkir, serta menambah musala dan area tenant bagi penumpang.
“Kami ingin masyarakat yang mengakses Stasiun Kalisetail merasa lebih nyaman,” tambah Cahyo.
Kenaikan penumpang di Stasiun Kalisetail juga cukup signifikan, dari 1.500 orang per hari pada 2024 menjadi sekitar 2.500 orang per hari di 2025.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi langkah KAI yang mengusung kearifan lokal dalam desain stasiun.
“Konsep KAI sejalan dengan visi Pemkab Banyuwangi. Ruang publik tidak hanya untuk mobilitas, tapi juga harus punya nilai budaya dan historis,” ujar Ipuk. (ivan)