Sebagai bagian dari upaya konservasi, manajemen telah mengusulkan program restocking atau pelepasliaran komodo ke habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Komodo dan Pulau Flores. Pada tahap awal, sekitar empat hingga lima ekor komodo disiapkan untuk dilepasliarkan.
“Kami masih melakukan identifikasi, termasuk komposisi jenis kelamin dan kesiapan fisik. Satwa juga harus dihabituasi agar siap kembali ke alam liar,” jelasnya.
Usulan tersebut telah diajukan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur untuk diteruskan ke kementerian terkait. Meski waktu pelaksanaan belum dipastikan, manajemen optimistis program restocking ini dapat segera terealisasi.
Keberhasilan meningkatkan jumlah pengunjung sekaligus menjalankan fungsi konservasi menegaskan posisi KBS tidak sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat pelestarian satwa langka yang berkontribusi bagi keberlanjutan ekosistem nasional. (ivan)