Tembus 2,1 Juta Pengunjung, Kebun Binatang Surabaya Siapkan Restocking Komodo

wisata | 14 Februari 2026 16:35

Tembus 2,1 Juta Pengunjung, Kebun Binatang Surabaya Siapkan Restocking Komodo
Atraksi komodo menjadi salah satu daya tarik pengunjung di Kebun Binatang Surabaya. (dok jatimpos)

 

 

SURABAYA, PustakaJC.co – Tren kunjungan ke Kebun Binatang Surabaya (KBS) terus menunjukkan peningkatan signifikan. Sepanjang 2025, jumlah pengunjung menembus angka 2,1 juta orang, naik lebih dari 100 ribu dibandingkan tahun sebelumnya yang tercatat sekitar 1,99 juta pengunjung.

 

Direktur Operasional Perusahaan Daerah Taman Satwa KBS, Nurika Widyasanti, mengatakan peningkatan tersebut mencapai kisaran 5–10 persen dalam periode 2024 hingga akhir 2025. Menurutnya, tren positif ini menjadi indikator keberhasilan berbagai pembenahan dan inovasi yang dilakukan manajemen. Dilansir dari jatimpos.co, Sabtu, (14/2/2026).

 

“Apabila dikomparasikan di tahun 2024 sampai akhir tahun 2025, kami memang mengalami peningkatan pengunjung kurang lebih 5–10 persen,” ujarnya, Jumat,(13/2/2026).

 

 

Peningkatan kunjungan tidak lepas dari penambahan wahana baru yang memperkaya pengalaman wisata keluarga. Di antaranya wahana gokart dan kereta hutan yang menjadi daya tarik baru bagi pengunjung. Selain itu, koleksi satwa juga terus berkembang melalui program pengembangbiakan.

 

Salah satu yang menjadi sorotan adalah kapibara. Dari awalnya hanya sepasang, kini populasinya meningkat pesat menjadi sekitar delapan ekor. 

 

“Kami mengupayakan perkembangbiakan satwa terus berjalan agar regenerasi tetap terjaga,” kata Nurika.

 

Tak hanya fokus pada penambahan koleksi, KBS juga menjalankan peran penting dalam konservasi satwa prioritas nasional, yakni komodo. Saat ini, KBS menjadi salah satu pusat pengembangbiakan komodo di Indonesia dengan populasi mencapai sekitar 80 ekor, didominasi fase remaja hingga dewasa.

 

 

Sebagai bagian dari upaya konservasi, manajemen telah mengusulkan program restocking atau pelepasliaran komodo ke habitat aslinya di Nusa Tenggara Timur, khususnya Pulau Komodo dan Pulau Flores. Pada tahap awal, sekitar empat hingga lima ekor komodo disiapkan untuk dilepasliarkan.

 

“Kami masih melakukan identifikasi, termasuk komposisi jenis kelamin dan kesiapan fisik. Satwa juga harus dihabituasi agar siap kembali ke alam liar,” jelasnya.

 

Usulan tersebut telah diajukan ke Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur untuk diteruskan ke kementerian terkait. Meski waktu pelaksanaan belum dipastikan, manajemen optimistis program restocking ini dapat segera terealisasi.

 

Keberhasilan meningkatkan jumlah pengunjung sekaligus menjalankan fungsi konservasi menegaskan posisi KBS tidak sekadar sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat pelestarian satwa langka yang berkontribusi bagi keberlanjutan ekosistem nasional. (ivan)