SURABAYA, PustakaJC.co– Energi panas bumi semakin menempati posisi strategis dalam upaya memperkuat transisi energi nasional. Indonesia bahkan disebut memiliki salah satu cadangan panas bumi terbesar di dunia, yang kini mulai dioptimalkan untuk mendukung kebutuhan listrik ramah lingkungan. Kamis, (26/3/2026).
“Ruang pertumbuhan energi panas bumi masih terbuka lebar. Ini menjadi peluang besar untuk memperkuat bauran energi nasional,” ujarnya, Demikian dikutip dari Jawapos.com, Kamis, (26/3/2026).
Kinerja positif PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) sepanjang 2025 menjadi salah satu indikator meningkatnya peran sektor ini. Perusahaan tersebut mencatat pertumbuhan laba bersih serta peningkatan kapasitas terpasang listrik dari 672 megawatt (MW) menjadi 727 MW.
Pengamat energi Hadi Ismoyo menilai capaian ini mencerminkan momentum penting dalam pengembangan energi panas bumi di Indonesia. Menurutnya, potensi geothermal nasional masih sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal.
Ia menambahkan, energi panas bumi memiliki keunggulan sebagai sumber energi baseload yang stabil, berbeda dengan energi terbarukan lain seperti tenaga surya atau angin yang bergantung pada kondisi alam.
Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pemerintah menargetkan porsi Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 76 persen pada periode 2025–2034. Dalam skenario tersebut, panas bumi diproyeksikan menjadi salah satu kontributor utama dalam menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus menekan emisi karbon.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS) Ali Ahmudi Achyak menilai tren positif yang ditunjukkan PGE dapat mempercepat laju transisi energi di Tanah Air.
“Panas bumi berpotensi menjadi game changer dalam transisi energi, terutama karena Indonesia memiliki cadangan yang sangat besar,” katanya.
Menurutnya, kebutuhan energi akan terus meningkat seiring target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok mencapai 8 persen. Dalam hal ini, sektor ketenagalistrikan memegang peran penting karena setiap pertumbuhan ekonomi membutuhkan dukungan suplai listrik yang memadai.
Meski demikian, pengembangan energi panas bumi masih menghadapi sejumlah tantangan. Mulai dari tingginya biaya eksplorasi awal, risiko proyek, hingga kebutuhan infrastruktur pendukung yang memadai.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta dinilai menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi yang ada.
Di tengah dorongan global menuju dekarbonisasi, pemanfaatan energi panas bumi dinilai tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang dalam mewujudkan kemandirian energi nasional yang berkelanjutan.
Sepanjang 2025, PGE mencatat pendapatan sebesar USD 432,72 juta, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 407,12 juta. Selain itu, produksi listrik hijau juga mencapai 5.095 gigawatt hour (GWh), naik 5,55 persen dibandingkan tahun 2024 sebesar 4.827 GWh.
Pencapaian tersebut semakin menegaskan bahwa energi panas bumi berperan penting dalam mendukung masa depan energi bersih Indonesia. (frcn)